CN — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon memperkuat program berbasis desa melalui pengembangan Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI). Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses keuangan masyarakat, di tengah stabilnya kinerja sektor jasa keuangan di wilayah Ciayumajakuning pada Triwulan I 2026.
Kepala OJK Cirebon, Agus Mutholib, menegaskan bahwa program Desa EKI menjadi salah satu strategi utama untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan hingga ke tingkat desa.
“Melalui program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif, kami menghadirkan pendekatan terintegrasi yang meliputi edukasi literasi keuangan, peningkatan pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan formal, serta fasilitasi akses pembiayaan bagi pelaku usaha dan masyarakat produktif,” ujarnya. Selasa, 28 April 2026.
Agus menyampaikan, secara umum kondisi sektor jasa keuangan di Ciayumajakuning yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan tetap terjaga stabil. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit, peningkatan aset perbankan, hingga bertambahnya jumlah investor pasar modal.
Di sektor perbankan, kinerja Bank Perekonomian Rakyat (BPR) menunjukkan tren positif. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit mencapai Rp2,162 triliun atau tumbuh 5,31 persen secara tahunan. Di saat yang sama, rasio kredit bermasalah (NPL) justru menurun.
"Aset BPR juga meningkat menjadi Rp2,96 triliun, diikuti penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp2,24 triliun. Permodalan BPR pun tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 21,74 persen," ungkapnya.
Sementara itu, kinerja bank umum juga mengalami peningkatan. Penyaluran kredit tercatat mencapai Rp48,19 triliun, dengan rasio NPL tetap terjaga di angka 3,61 persen. Untuk perbankan syariah, pembiayaan tumbuh menjadi Rp7,78 triliun dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) sebesar 2,82 persen.
"Di sektor pasar modal, jumlah investor terus meningkat signifikan menjadi 567,6 ribu Single Investor Identification (SID), atau tumbuh 79,8 persen secara tahunan. Nilai transaksi saham juga melonjak hingga Rp2,57 triliun," tegasnya.
Agus menambahkan, penguatan literasi dan inklusi keuangan juga dilakukan melalui berbagai program edukasi. Sepanjang Triwulan I 2026, OJK Cirebon telah menggelar 59 kegiatan edukasi yang diikuti lebih dari 7.300 peserta di seluruh wilayah Ciayumajakuning.
“Selain edukasi reguler, kami juga mengakselerasi program tematik seperti pengembangan Desa EKI dan kegiatan literasi keuangan syariah agar masyarakat semakin bijak dalam menggunakan layanan keuangan formal,” katanya.
OJK Cirebon juga mencatat tingginya aktivitas layanan konsumen, dengan total 901 konsultasi dan pengaduan sepanjang Triwulan I 2026. Mayoritas pengaduan berasal dari sektor fintech lending dan perbankan.
Ke depan, OJK Cirebon berkomitmen terus memperluas akses keuangan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk mendukung program pengentasan kemiskinan ekstrem di desa.
“Ke depan, kami akan terus mengakselerasi program literasi dan inklusi keuangan secara masif melalui penyediaan akses keuangan yang terjangkau, mudah, dan murah bagi seluruh masyarakat,” tutup Agus. (Din)
