![]() |
| Perayaan HUT ke-114 Stasiun Cirebon diwarnai kegiatan sosial, edukasi sejarah perkeretaapian, serta syukuran bersama jajaran KAI dan komunitas pecinta kereta api, Rabu, 3 Juni 2026./Ist |
CN - Stasiun Cirebon menandai perjalanan panjangnya yang ke-114 tahun dengan catatan penting sebagai salah satu pusat transportasi kereta api paling strategis di Pulau Jawa.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat, stasiun bersejarah ini tetap menjadi pilihan utama warga untuk bepergian sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Data PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 3 Cirebon menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api. Sepanjang periode 2023 hingga Mei 2026, Stasiun Cirebon telah melayani lebih dari 5,1 juta pelanggan.
Jumlah pengguna terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2023 tercatat sebanyak 1.328.655 pelanggan menggunakan layanan stasiun ini. Angka tersebut meningkat menjadi 1.489.590 pelanggan pada 2024 dan kembali naik menjadi 1.610.225 pelanggan sepanjang 2025.
Sementara pada Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 729.104 orang.
Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin menilai, tren tersebut menunjukkan kereta api masih menjadi moda transportasi favorit masyarakat karena dinilai nyaman, tepat waktu, dan efisien.
Menurutnya, aktivitas yang berlangsung setiap hari di Stasiun Cirebon tidak hanya mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat, tetapi juga memperlihatkan peran penting stasiun sebagai ruang interaksi sosial dan penggerak kegiatan ekonomi di wilayah Cirebon.
"Pertumbuhan jumlah pelanggan setiap tahun menjadi indikator kuat bahwa kereta api masih dipercaya masyarakat sebagai sarana transportasi utama," ujar Muhibbuddin, Rabu, 3 Juni 2026.
Keberadaan Stasiun Cirebon memang memiliki posisi penting dalam jaringan perkeretaapian nasional. Sejak pertama kali beroperasi pada 3 Juni 1912, stasiun ini menjadi penghubung berbagai jalur strategis yang menghubungkan wilayah barat, tengah, hingga selatan Pulau Jawa.
Saat ini, Stasiun Cirebon melayani mobilitas masyarakat menuju berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Purwokerto, hingga Yogyakarta.
Perannya tidak hanya mendukung perjalanan bisnis, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor wisata dan perdagangan di kawasan Ciayumajakuning.
Di balik aktivitas modern tersebut, Stasiun Cirebon tetap mempertahankan identitas sejarahnya. Bangunan yang dirancang arsitek Belanda Pieter Adriaan Jacobus Moojen itu masih mempertahankan karakter arsitektur Art Deco yang menjadi ciri khasnya.
Sebagai bangunan yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, KAI berkomitmen menjaga keaslian struktur dan nilai historis stasiun tanpa mengabaikan peningkatan kualitas pelayanan kepada pelanggan.
Muhibbuddin menjelaskan, pelestarian bangunan bersejarah dan modernisasi layanan berjalan beriringan. KAI terus melakukan berbagai pengembangan fasilitas untuk menjawab kebutuhan pengguna transportasi masa kini, sambil tetap menjaga warisan arsitektur yang menjadi kebanggaan masyarakat Cirebon.
Perayaan ulang tahun ke-114 Stasiun Cirebon turut diisi sejumlah kegiatan sosial dan edukatif. Acara tersebut dihadiri Komisaris KAI Wisata Yudhistira, Kepala Daop 3 Cirebon Sigit Winarto, serta melibatkan berbagai komunitas pecinta sejarah dan perkeretaapian seperti Komunitas Cirebon History, IRPS Cirebon, dan Edan Sepur Cirebon.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun sebagai bentuk rasa syukur atas pengabdian stasiun kepada masyarakat selama lebih dari satu abad. KAI juga menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim dari Pondok Pesantren Tarbiyyatul Athfal, Benda Kerep, Kecamatan Argasunya, Kota Cirebon.
Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai sejarah Stasiun Cirebon, perkembangan dunia perkeretaapian Indonesia, hingga pengenalan berbagai profesi yang berperan dalam operasional kereta api.
Memasuki usia ke-114 tahun, Stasiun Cirebon terus membuktikan diri sebagai bangunan bersejarah yang tetap relevan di era modern. Keberadaannya bukan hanya menjadi saksi perjalanan waktu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung konektivitas, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan transportasi di Indonesia.
Muhibbuddin menegaskan, KAI akan terus berupaya menjadikan Stasiun Cirebon sebagai kebanggaan masyarakat dengan tetap merawat nilai sejarah sekaligus menghadirkan layanan transportasi yang semakin modern dan berkelanjutan.* (Jr)
