![]() |
| Hasil produksi kelompok Wiralodra. |
INDRAMAYU - Suara mesin pencacah plastik terdengar dari sebuah bangunan sederhana di Desa Balongan, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu. Suaranya berulang, bersahutan dengan aktivitas beberapa orang di dalam bangunan.
Di salah satu sudut, Matori (51) tengah mengolah serpihan plastik berwarna biru dan putih. Bahan yang sebelumnya telah dicacah itu diproses menggunakan mesin pemanas listrik hingga melunak, sebelum dibentuk menjadi lembaran papan bermotif marmer.
Matori memperhatikan prosesnya. Sesekali ia mengatur bahan yang dipanaskan agar dapat dibentuk dengan baik. Tak jauh darinya, dua anggota kelompok lain sibuk mengoperasikan mesin pencacah.
Botol dan potongan plastik dimasukkan ke dalam mesin, satu demi satu, lalu berubah menjadi serpihan kecil yang akan menjadi bahan baku produk berikutnya.
Aktivitas tak hanya berlangsung di dalam bangunan. Di bagian depan, warga datang membawa kantong berisi sampah plastik. Sampah itu ditimbang dan dicatat sebelum masuk ke dalam alur pengelolaan kelompok.
Sebuah bangunan terbuka dengan rangka berwarna hijau menjadi tempat penampungan sampah terpilah. Di sana tersedia tempat sampah beroda untuk kategori organik, anorganik, dan residu.
Tak jauh dari lokasi pengolahan plastik, berdiri bangunan peternakan ayam petelur. Lantai semen, kandang baterai bertingkat, tempat pakan, serta saluran air otomatis dengan pipa PVC dan tempat minum ayam tertata di dalamnya. Telur dari peternakan itu nantinya menjadi bagian dari program pertukaran sampah yang dijalankan kelompok ini.
Di tempat itu, sampah tidak hanya dikumpulkan untuk kemudian dibuang. Sebagiannya diolah menjadi barang bernilai jual, sebagian lain dimanfaatkan dalam kegiatan peternakan. Kini, energi matahari juga ikut mendukung sejumlah peralatan yang digunakan dalam proses tersebut.
Bagi Matori, perjalanan itu tidak berawal dari gagasan besar tentang penyelamatan lingkungan. Mulanya lebih sederhana seperti mencari penghasilan dari sesuatu yang kerap dianggap tidak berguna.
“Sampah itu bukan masalah. Yang jadi masalah itu kalau kita berhenti peduli,” ujarnya.
Kalimat itu menggambarkan perjalanan Matori bersama kelompok yang kini dikenal dengan nama WIRALODRA, singkatan dari Wilayah Masyarakat Pengelola Daur Ulang Sampah. Dari kegiatan bank sampah di lingkungan tempat tinggal, mereka perlahan membangun usaha pengolahan limbah yang kini berkembang dengan dukungan fasilitas dan energi surya.
Menemukan Nilai dari Sampah
Sebelum menggeluti pengelolaan sampah, Matori pernah bekerja di lingkungan industri. Setelah meninggalkan pekerjaannya sekitar 2006, ia menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Salah satunya mengumpulkan plastik untuk dijual kembali kepada pengepul.
Dari kegiatan itu, ia mulai melihat bahwa sampah yang dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai ekonomi. Namun, nilai tersebut tidak muncul begitu saja. Sampah perlu dipilah, dikumpulkan, dan dikelola agar bisa dimanfaatkan kembali.
Pada 2016, kegiatan bank sampah mulai dibangun di lingkungan masyarakat. Tujuannya bukan semata mengumpulkan barang bekas, melainkan mengenalkan kebiasaan memilah sampah dan mendorong warga agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Tiga tahun kemudian, pada 2019, kegiatan tersebut berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Matori menjadi salah satu penggerak sejak awal prosesnya. Kelompok itu kemudian mengembangkan kegiatan dengan nama WIRALODRA.
Pada tahap awal, perhatian kelompok lebih banyak tertuju pada pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). Sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sementara hasil budidayanya dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak maupun dijual.
Kegiatan itu melibatkan warga sekitar. Sebagian besar anggota aktif WIRALODRA merupakan masyarakat Balongan yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Kini, sekitar 20 orang terlibat dalam kegiatan kelompok tersebut.
“Saya ingin Balongan nggak cuma dikenal karena kilang, tapi juga karena warganya yang bisa menjaga bumi,” kata Matori.
Nama WIRALODRA sendiri memiliki kedekatan dengan identitas Indramayu. Wiralodra dikenal sebagai sosok yang lekat dengan kisah asal-usul daerah tersebut, Raden Bagus Arya Wiralodra yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama Indramayu.
Dari Balongan, kelompok ini berupaya menghadirkan makna lain dari nama itu, gerakan masyarakat yang mencoba mengubah persoalan sampah menjadi peluang.
Arah Baru
Perjalanan WIRALODRA tidak selalu berjalan mulus. Ketika harga maggot mengalami penurunan pada 2023, kelompok menghadapi kenyataan jika pengelolaan sampah juga harus memiliki perhitungan ekonomi yang berkelanjutan.
Pada masa itu, dukungan dari RU Balongan membuka arah pengembangan baru. Melalui program pemberdayaan masyarakat, kelompok mendapat pendampingan untuk memperluas jenis pengolahan sampah, terutama plastik yang selama ini lebih sulit dimanfaatkan.
Dukungan tersebut mencakup peralatan, fasilitas, pelatihan, pendampingan, hingga bantuan pemasaran. Mesin pencacah menjadi salah satu peralatan penting yang membantu anggota mengolah plastik menjadi bahan baku produk bernilai tambah.
Jika sebelumnya aktivitas kelompok lebih banyak bertumpu pada pengolahan sampah organik, kini plastik juga menjadi bagian penting dari kegiatan produksi. Botol bekas dan potongan plastik yang telah dipilah dicacah menjadi serpihan, kemudian diproses menjadi berbagai produk.
Perubahan ini, bagi WIRALODRA taksekadar menambah jenis usaha, karena tak langsung mereka sedang membangun mata rantai pemanfaatan sampah agar tidak berhenti pada kegiatan mengumpulkan dan menjual barang bekas.
“Setiap proses kehidupan pasti menghasilkan limbah, tapi bukan berarti limbah itu tak bisa dimanfaatkan. Melalui Wiralodra, kami ingin menunjukkan jika sampah yang sulit didaur ulang seperti plastik bisa kita ubah menjadi sesuatu yang punya nilai ekonomi,” ujar Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR RU Balongan, Andromedo Cahyo Purnomo, yang akrab disapa Edo.
Di sisi lain, pemilahan sampah tetap menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) perlu dipisahkan sejak awal agar pengelolaannya lebih terarah. Kebiasaan itu perlu dibangun bukan hanya di lingkungan industri, tetapi juga di rumah tangga.
“Kami membiasakan pemilahan tiga jenis sampah, organik, anorganik dan B3 baik di lingkungan industri maupun rumah tangga. Kalau ini jadi budaya, pengelolaan di tingkat komunitas seperti Wiralodra akan jauh lebih mudah,” ujarnya.
Dari Plastik Bekas Menjadi Produk Bernilai
Salah satu hasil pengembangan WIRALODRA adalah produk kerajinan berbahan plastik daur ulang. Plastik yang semula dipandang sebagai limbah, diolah menjadi papan bermotif marmer yang diproses menjadi plakat, gantungan kunci, jam dinding, hingga berbagai produk furnitur.
Prosesnya dimulai dari pemilahan bahan dan warna. Plastik yang terkumpul dicacah menjadi serpihan kecil, kemudian dicuci dan dikeringkan.
Setelah siap, serpihan dipanaskan menggunakan peralatan listrik hingga melunak, lalu dimasukkan ke dalam cetakan dan dipadatkan. Tahap berikutnya adalah merapikan dan menghaluskan permukaan agar siap digunakan sebagai bahan produk.
Sebelumnya, kelompok pernah memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar tungku untuk memanaskan plastik. Dengan cara itu, dua jenis limbah dimanfaatkan dalam satu proses.
Plastik diolah menjadi bahan baru, sedangkan minyak bekas pakai digunakan kembali sebagai bahan bakar tungku. Namun, proses pelelehan plastik yang berjalan saat ini telah menggunakan listrik.
Dari sekitar satu kilogram plastik, kelompok ini dapat menghasilkan satu plakat dengan nilai jual sekitar Rp100.000. Dalam delapan bulan pertama pengembangan produk tersebut, WIRALODRA pernah menghasilkan 127 plakat dengan total nilai penjualan sekitar Rp12,7 juta.
Capaian tersebut menunjukkan, sampah plastik masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan. Melalui proses pengolahan dan kreativitas, material yang semula dibuang dapat berubah menjadi barang yang memiliki nilai jual.
“Ini bukan sekadar daur ulang, kami menyebutnya ekonomi sirkular. Limbah yang dulu dianggap akhir, kini menjadi awal dari kehidupan baru,” kata Edo.
Produk-produk WIRALODRA juga mulai menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satunya melalui kerja sama dengan Kopi Teman Istimewa, sebuah kafe inklusif di pusat Kota Indramayu yang turut menjadi mitra binaan RU Balongan.
Di tempat itu, produk hasil olahan plastik WIRALODRA tidak hanya dipasarkan, tetapi juga digunakan sebagai bagian dari perlengkapan kafe. Meja, kursi, plakat, jam dinding, kotak tisu, hingga tempat sampah menjadi contoh pemanfaatan papan plastik daur ulang.
WIRALODRA juga memasok papan plastik cetakan untuk kegiatan pengolahan di ruang lokakarya kafe tersebut. Di sana, teman-teman tuli turut terlibat dalam aktivitas pengolahan plastik.
Dengan demikian, pemanfaatan sampah tidak hanya menghadirkan nilai ekonomi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan partisipasi bagi kelompok masyarakat yang lebih luas.
Matahari Menggerakkan Ekonomi Sirkular
Pemanfaatan energi surya kini bukan semata tentang mengganti sumber listrik dengan energi terbarukan. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina, energi matahari juga dimanfaatkan untuk menopang kegiatan usaha masyarakat. Harapannya, biaya operasional dapat ditekan sehingga roda ekonomi kelompok terus berputar.
Matori, yang menjadi salah satu Local Hero Pertamina bersama anggota WIRALODRA kini mendapat dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari RU Balongan.
Pembangkit berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) dengan penyimpanan energi sebesar 10 kilowatt hour (kWh) tersebut dipasang untuk mendukung kebutuhan listrik berbagai peralatan produksi WIRALODRA.
Energi surya dimanfaatkan untuk mengoperasikan mesin pencacah dan mesin pemanas plastik, gerinda serta bor yang digunakan dalam pembuatan produk kreatif dari papan plastik daur ulang.
Sebelum PLTS hadir, kegiatan pengolahan sampah dan peternakan mengandalkan pasokan listrik PLN. Kebutuhan energi sejumlah mesin produksi membuat pengeluaran listrik menjadi salah satu komponen biaya operasional yang menguras kas kelompok.
Matori mengakui, keberadaan PLTS sangat membantu kegiatan produksi. Terlebih, mesin pencacah dan alat press yang digunakan dalam pengolahan plastik membutuhkan daya listrik cukup besar.
“PLTS berguna sekali karena alat di sini membutuhkan beban begitu besar sekitar 5.000 watt. Sebelumnya biaya yang kami keluarkan cukup besar,” ungkap Matori.
Ia menyebut, sebelum menggunakan energi surya, pengeluaran listrik untuk kegiatan pengolahan sampah plastik dan peternakan berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan.
“Setelah kami menggunakan panel surya kami agak menghemat pengeluaran,” lanjutnya.
Bagi mereka, penghematan tersebut memberi ruang lebih besar untuk mengelola hasil usaha. Dana yang sebelumnya digunakan untuk membayar listrik dapat dialihkan untuk mendukung kegiatan produksi dan kebutuhan kelompok lainnya.
Dukungan PLTS juga tidak berhenti pada pemasangan fasilitas. Matori turut mengikuti proses sertifikasi operator ketenagalistrikan PLTS yang didukung Pertamina di Magelang. Pengetahuan tersebut menjadi bekal agar fasilitas energi surya dapat dioperasikan dan dirawat dengan lebih baik.
“Dengan adanya PLTS kami full pakai menggunakan tenaga surya ini kami tidak keluar biaya untuk produksi menggunakan energinya,” tutur Matori.
Bagi Matori, pengalaman tersebut menjadi bagian baru dari perjalanan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Dari pekerjaan serabutan, ia kini mengelola kegiatan yang tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga memberinya kesempatan mempelajari teknologi energi terbarukan.
Edo menjelaskan, dukungan terhadap WIRALODRA merupakan bagian dari komitmen perusahaan membangun kemandirian masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Menurut Edo, tanggung jawab sosial perusahaan tidak cukup dijalankan sebatas memenuhi kewajiban program. Lebih dari itu, pemberdayaan diharapkan mampu membuat masyarakat mengelola potensi dan persoalan di lingkungannya secara mandiri.
“Visi PT PPN RU Balongan dalam mendukung keberlanjutan dan pemberdayaan di Indramayu tidak hanya menjalankan kewajiban CSR sesuai undang-undang yang berlaku, tetapi wujud komitmen perusahaan dalam membangun kemandirian masyarakat yang berkelanjutan. Di Indramayu, khususnya di wilayah ring I operasional kilang, kami ingin menciptakan ekosistem di mana masyarakat tidak bergantung pada bantuan karitatif, tetapi mampu mengelola potensi dan masalah mereka sendiri,” ujar Edo.
Ia menilai pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat merupakan dua hal yang saling berkaitan. Masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik diharapkan dapat turut menjaga lingkungan, sementara lingkungan yang sehat menjadi salah satu modal penting bagi kesejahteraan.
Pendekatan ekonomi sirkular yang dipadukan dengan energi terbarukan di WIRALODRA juga memiliki alasan tersendiri. Kelompok tersebut telah mengembangkan pengelolaan sampah dari pengumpulan hingga pengolahan menjadi produk bernilai ekonomi. Namun, kegiatan itu membutuhkan energi yang cukup besar untuk mengoperasikan mesin dan fasilitas produksi.
“Kelompok Wiralodra bergerak dari hulu ke hilir dalam pengelolaan sampah. Kelompok mampu mengubah sampah menjadi nilai tambah ekonomi, namun operasional mesin dan fasilitas pengolah sampah di bank sampah Wiralodra membutuhkan energi yang tidak sedikit,” jelasnya.
Karena itu, PLTS dihadirkan melalui program Desa Energi Berdikari untuk melengkapi upaya pengelolaan sampah yang telah berjalan. Integrasi energi surya diharapkan membuat proses ekonomi sirkular lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik yang bersumber dari energi fosil.
Selain mengembangkan pengolahan sampah dan pemanfaatan energi terbarukan, WIRALODRA juga menjadi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang ditunjuk oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu. Status tersebut memperkuat peran kelompok bukan hanya sebagai pengelola sampah di tingkat masyarakat, tetapi juga sebagai pusat edukasi pengelolaan lingkungan, khususnya di kawasan pesisir.
Meski demikian, penerapan teknologi PLTS di tingkat masyarakat bukan tanpa tantangan. Menurut Edo, warga perlu memahami cara merawat panel surya, kapasitas baterai dan inverter, serta kebutuhan pemeliharaan perangkat dan instalasi. Ketersediaan energi yang tersimpan juga bergantung pada kondisi penyinaran matahari.
Tantangan lainnya adalah membangun rasa memiliki di tengah masyarakat. Fasilitas yang diberikan perlu dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan, bukan sekadar dianggap sebagai bantuan yang dititipkan perusahaan.
“Secara sosial, mengubah kebiasaan masyarakat dan kelompok agar mau merawat fasilitas ini bersandar pada figur Local Hero. Tanpa adanya local hero yang militan dan dipercaya oleh masyarakat, teknologi sebaik apa pun hanya akan dianggap sebagai barang titipan perusahaan yang rentan terbengkalai,” kata Edo.
Dalam konteks itu, peran Matori menjadi penting. Ia tidak hanya menggerakkan kegiatan pengolahan sampah, tetapi juga menjadi sosok yang mendorong anggota kelompok dan warga sekitar untuk terlibat menjaga keberlanjutan program.
Edo menambahkan, dampak penggunaan PLTS di WIRALODRA dapat dirasakan melalui berkurangnya pengeluaran listrik kelompok. Penghematan tersebut memberi peluang agar dana yang tersedia dapat kembali dimanfaatkan untuk memperbesar produksi, meningkatkan pembelian sampah dari masyarakat, serta mendukung kegiatan sosial dan edukasi lingkungan.
Ke depan, RU Balongan berencana mengembangkan model pemberdayaan berbasis ekonomi sirkular dan energi terbarukan ke wilayah binaan lainnya. Pengembangan itu dapat dilakukan dengan memperkuat kelompok yang sudah ada maupun menyebarluaskan pengetahuan yang telah dibangun WIRALODRA.
“Untuk teknologinya sendiri nanti akan disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah karena keberhasilan program, terutama dalam transisi energi ke energi terbarukan, bergantung kepada keadaan sumber daya ataupun pelaku dan local hero yang ada di wilayah itu sendiri,” ujar Edo.
Saat ini, program Desa Energi Berdikari Pertamina di Indramayu juga hadir di Desa Majakerta dan Desa Sukaurip. Sementara itu, penguatan kelompok seperti Kaldera dan SMKN 1 Balongan menjadi bagian dari upaya memperluas pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat di wilayah sekitar.
Menyulam Kolaborasi
Perjalanan WIRALODRA memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Ada peran masyarakat yang memilah dan mengumpulkan sampah, dukungan dunia usaha dalam penyediaan fasilitas dan pendampingan, serta pemerintah yang bertugas membangun kebijakan dan sistem pengelolaan lingkungan.
“Pertamina tidak bisa bekerja sendiri, masyarakat harus terlibat aktif, dan pemerintah menjadi pengarah kebijakan. Kalau tiga ini bersatu, masalah sampah dapat menjadi peluang ekonomi,” ujar Edo.
Kolaborasi tersebut menjadi penting karena persoalan sampah di Kabupaten Indramayu masih membutuhkan perhatian. Pemerintah daerah menghadapi tantangan dalam meningkatkan pengurangan dan penanganan sampah, mulai dari keterbatasan sarana hingga kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah.
Dalam dokumen Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RPJMD Kabupaten Indramayu 2025–2029, capaian penanganan sampah tercatat sebesar 48,8 persen, sedangkan pengurangan sampah mencapai 12,7 persen. Data tersebut menjadi salah satu gambaran tantangan yang perlu dijawab melalui program pengelolaan sampah yang lebih terarah.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan, pemerintah daerah mulai menginisiasi gerakan pengelolaan sampah terpilah, khususnya di lingkungan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Menurutnya, selama ini sampah seperti plastik, kaca dan logam masih tercampur dengan sampah organik, sehingga menyulitkan proses pengolahan, sehingga sangat penting dilakukan pemilahan.
“Ke depan kita dorong sampah terpilah dari tingkat desa hingga kecamatan, sehingga tidak semuanya dibawa ke tempat pembuangan akhir,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.
Di tingkat komunitas, WIRALODRA menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan perilaku dapat dibangun melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Warga tidak hanya diminta membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga diajak memahami sampah yang dipilah memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
Ekonomi Sirkular yang Menghidupkan
Di WIRALODRA, pengolahan sampah tidak berhenti pada produk kerajinan. Kelompok juga mengembangkan peternakan ayam petelur yang terhubung dengan kegiatan pengelolaan sampah organik.
Maggot hasil budidaya dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pakan ayam. Selain itu, mereka juga mengoperasikan mesin pembuat pakan untuk mengolah bahan yang tersedia menjadi pakan ternak. Dengan demikian, sebagian hasil dari pengolahan sampah dapat kembali dimanfaatkan dalam kegiatan peternakan.
Hubungan antara pengelolaan sampah dan peternakan terlihat melalui program TELUR BASAH, singkatan dari Telur Barter Sampah Plastik. Melalui program ini, warga dapat menukarkan sampah plastik dengan telur hasil peternakan WIRALODRA.
Skemanya sederhana, dari setiap satu kilogram sampah plastik jenis PET atau HDPE dapat ditukar dengan satu butir telur. Sementara itu, minyak jelantah sebanyak 1,5 liter dapat ditukar dengan dua butir telur.
Sampah yang dibawa warga terlebih dahulu ditimbang. Setelah jumlahnya diketahui, petugas mencatat hasil penimbangan dan memberikan telur sesuai ketentuan penukaran. Telur yang dibagikan berasal dari peternakan ayam petelur milik kelompok tersebut.
Bagi warga, program tersebut memberikan manfaat langsung. Sampah rumah tangga yang sebelumnya dibuang begitu saja kini dapat dikumpulkan dan ditukarkan dengan kebutuhan pangan.
Casmita (59), salah seorang warga yang mengikuti program tersebut, merasakan perubahan dalam kebiasaan mengelola sampah.
“Sekarang nggak bingung buang sampah, tinggal dikumpul aja, nanti Matori yang nampung,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Siti Maryam (43). Ia mengumpulkan sampah secara berkala untuk ditukarkan melalui program tersebut.
“Sampah yang dulu bikin sumpek, sekarang bisa buat beli seragam anak dari uang yang dikumpulkan,” kata Siti.
Bagi Siti, manfaat program itu bukan hanya soal telur yang diterima. Kebiasaan mengumpulkan sampah juga membuat lingkungan rumah lebih tertata dan memberi nilai tambah dari barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bagaimana ekonomi sirkular bekerja dalam lingkup masyarakat. Sampah plastik menjadi bahan baku kerajinan, sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot, sementara hasil peternakan menjadi bagian dari program pertukaran dengan warga.
Energi matahari kemudian mendukung sebagian peralatan yang digunakan dalam proses tersebut. Setiap kegiatan memiliki keterkaitan, membentuk rantai pemanfaatan yang berupaya mengurangi limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Dari Wiralodra untuk Bumi
Di tengah berbagai kegiatan yang terus berkembang, Matori dan anggota WIRALODRA masih menyimpan harapan yang lebih besar. Mereka ingin kelompok tersebut tumbuh menjadi usaha pengolahan sampah berskala semi-industri, sehingga kapasitas produksi dan jangkauan pemanfaatan limbah dapat meningkat.
“Kami ingin jadi semi-industri,” kata Matori.
Ia berharap Balongan kelak tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri dan kilang minyak, tetapi juga sebagai tempat masyarakat belajar mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.
“Biar nanti orang datang ke Balongan bukan cuma ke kilang, tapi juga belajar bagaimana sampah bisa berubah jadi karya,” harapnya.
Bagi Matori, perjalanan WIRALODRA memang belum selesai. Masih ada sampah yang harus dipilah, plastik yang perlu dicacah, produk yang harus dibuat, serta warga yang perlu diajak terlibat. Namun, perubahan yang berlangsung di kelompok itu menunjukkan pengelolaan lingkungan dapat tumbuh bersama kegiatan ekonomi masyarakat.
Di Balongan, sampah yang terkumpul tidak lagi hanya berakhir sebagai timbunan. Sebagiannya berubah menjadi papan bermotif marmer, meja, kursi, dan berbagai kerajinan. Sebagian lainnya masuk ke dalam siklus peternakan. Kini, energi matahari ikut menggerakkan peralatan yang mendukung proses tersebut sekaligus membantu kelompok menekan biaya operasional.
Kisah Matori memperlihatkan pembangunan PLTS bukanlah tujuan akhir, namun salah satu pintu masuk menuju perubahan di tingkat desa. Energi menjadi fondasi yang memungkinkan masyarakat mengembangkan usaha, memperkuat pengelolaan lingkungan, memanfaatkan potensi lokal dan membuka sumber penghidupan baru.
Dari tangan local hero Matori dan anggota WIRALODRA, terbentuk sebuah lingkaran kecil ekonomi sirkular, sampah dikumpulkan, diolah menjadi produk, dimanfaatkan untuk peternakan, dan kembali memberi manfaat bagi warga.
Matahari yang setiap sore menyinari Balongan pun kini punya peran lebih dari sekadar menerangi halaman. Energinya ikut menggerakkan mesin-mesin yang mengubah limbah menjadi karya. Di Bumi Wiralodra, harapan itu tumbuh dari sesuatu yang selama ini kerap dibuang.*
.jpeg)
