Matahari di Kapal Tua, Langkah PTK Menuju Operasi Maritim Lebih Hijau

 

Penggunaan solar panel di kapal FC Dwipangga.

INDRAMAYU - Jam dua belas lewat sedikit. Matahari tepat di atas jetty dan besi dek FC Dwipangga sudah terlalu panas untuk diinjak tanpa alas. Tidak ada penugasan hari itu.

Kapten Rudi Tranggono berdiri di dek dengan helm putih dan seragam biru yang punggungnya basah oleh keringat. Di ujung dek, terlihat kabin crane berwarna biru dengan beberapa jendela. Lengan kuningnya terbaring memanjang di atas dek, hampir menyentuh bangunan atas di dekatnya.

Di antara keduanya terbentang dek hijau yang luas. Catnya mengelupas di beberapa bagian dan memantulkan silau matahari. Gulungan tali tambang tebal teronggok, sementara terpal abu-abu menutupi tumpukan barang di sisi lainnya. Sebagian kru beristirahat di dalam, menghindari terik.

Standby memang menjadi bagian dari keseharian kapal derek ini. FC Dwipangga tidak bergerak jika tidak mendapat panggilan. Ketika pipa apung di Balongan perlu disambung atau Single Point Mooring (SPM) harus diperbaiki, barulah mesin bekerja dan crane diangkat.

Selebihnya, kapal menunggu di sisi jetty, ditemani bunyi air yang mengetuk lambung dan ban-ban bekas yang berderit setiap kali kapal bergoyang pelan menggesek dermaga.

Rudi berjalan menyusuri dek, melangkahi gulungan tali dan rantai yang membentang di tepinya, lalu masuk melalui pintu samping. Ia menunduk sedikit melewati ambang pintu baja yang rendah. Lorong di dalam lebih sempit dan gelap dibandingkan dek, matanya butuh beberapa detik menyesuaikan diri. Ditemani bau oli yang seolah telah melekat pada kapal selama bertahun-tahun.

Di ujung lorong terdapat ruangan yang relatif baru. Di kapal setua FC Dwipangga, kata “baru” bisa berarti sesuatu yang usianya belum mencapai lima tahun. Di dalam ruangan itu, rak baterai tersusun rapi dengan modul pengendali daya di bagian atas. Perangkat tersebut mengatur aliran listrik dari panel surya menuju baterai, lalu menyalurkannya untuk kebutuhan kapal.

Rudi berdiri di depan rak itu. Lampu indikator modul menyala hijau. Ia memeriksa layar, melihat sambungan kabel, menyentuh badan modul untuk merasakan suhunya, lalu mencatat sesuatu di buku kecil. Pada jam-jam ketika matahari sedang terik, panel bekerja lebih banyak. Jika ada kondisi yang tidak biasa, ia berharap bisa mengetahuinya dari pemeriksaan langsung.

Dari ruangan itu, Rudi kembali ke dek dan menaiki tangga besi menuju atap bangunan atas. Pegangannya hangat, hampir terlalu panas untuk digenggam lama. Di atas, panel-panel surya berjajar menghadap langit, permukaannya berkilat dan sedikit berdebu.

Ia mengambil kain pel bergagang panjang, lalu mengusapkannya pelan ke permukaan panel hingga ke deretan paling ujung yang tidak terjangkau tangan. Setelah itu, ia berjalan menyusuri barisan panel, memeriksa permukaannya satu per satu dan melihat kabel yang merambat di tepinya.

Angin laut membawa garam. Rudi tidak ingin hanya mengetahui kondisi panel dari laporan, tetapi juga dari matanya sendiri.

Tidak ada panggilan siang itu. Namun, panel di atas kapal tetap bekerja.


Mengurangi beban mesin bantu

Sebelum panel surya terpasang, kebutuhan listrik FC Dwipangga dipasok oleh Auxiliary Engine (AE) dari bahan bakar solar. Kini, sebagian besar kebutuhan listrik kapal tersebut dipenuhi oleh energi dari panel surya yang disimpan dalam baterai dan disalurkan melalui sistem kelistrikan kapal.

Mesin tersebut emasok listrik untuk penerangan, akomodasi awak, pendingin ruangan, dapur, lemari pendingin, serta perangkat navigasi dan komunikasi yang harus tetap siaga.

Ketika kapal berada dalam kondisi labuh atau tidak menjalankan crane, mesin bantu tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan listrik. Menurut Rudi, konsumsi solar untuk kebutuhan tersebut dapat mencapai sekitar delapan liter per jam.

Kini, sebagian kebutuhan itu dipasok dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 6,4 kilowatt-peak (kWp). Energi matahari ditangkap panel, disimpan dalam baterai, kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik kapal.

Berdasarkan pengalaman operasionalnya di kapal FC Dwipangga, Rudi memperkirakan sistem tersebut membantu menghemat konsumsi bahan bakar hingga sekitar 50 persen.

Perubahan juga terasa pada suasana kapal. Ketika mesin bantu tidak perlu terus bekerja untuk memasok listrik, suara dan getarannya berkurang. Awak kapal dapat beristirahat lebih nyaman dan berkomunikasi tanpa harus bersaing dengan bunyi mesin.

Eno Sedino, oiler yang telah bekerja selama tiga tahun di FC Dwipangga, merasakan perubahan serupa. Menurutnya, ruang mesin lebih sejuk dan suara mesin tidak lagi terlalu dominan ketika kebutuhan listrik dapat dipenuhi dari PLTS.

Berkurangnya frekuensi pengoperasian mesin bantu juga memengaruhi pekerjaan perawatan. Eno menyebut kebutuhan penggantian oli dan filter tidak sesering sebelumnya. Beban perawatan mesin dapat berkurang, meskipun mesin tetap harus dijaga kondisinya untuk kebutuhan operasional.

Penggunaan PLTS turut mengurangi kebutuhan penyimpanan dan pemindahan solar untuk mesin bantu. Bagi awak kapal, hal itu berarti berkurangnya aktivitas penanganan bahan bakar yang meminimalisir risiko tumpahan.

FC Dwipangga bukan kapal baru. Kapal kerja milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) itu telah beroperasi sejak 1998. Dengan panjang sekitar 30 meter dan lebar 14 meter, kapal berjenis ponton tersebut memiliki kapasitas sekitar 25 ton dan dilengkapi floating crane berkapasitas 15 ton.

PLTS mulai resmi diopersionalkan pada 19 Oktober 2023, setelah pengembangan dan uji integrasi energi surya pada port Balongan mulai pada 2021. Sistem yang digunakan bersifat hibrida: panel surya membantu memenuhi kebutuhan listrik kapal, sementara mesin diesel tetap digunakan untuk menggerakkan crane dan peralatan berat di geladak.

Rema Prajianto, Port Supervisor II Port Balongan PTK, menjelaskan bahwa uji integrasi awal panel surya di aset PTK telah dilakukan pada 2021. Menurutnya, salah satu tujuan penerapan teknologi tersebut adalah mengurangi penggunaan bahan bakar untuk kebutuhan kelistrikan kapal. Ia memperkirakan pengurangan konsumsi BBM dari penggunaan panel surya berada pada kisaran 20 hingga 40 persen.

“Secara efisiensi, ada sekitar 40 persen pengurangan BBM efek dari penggunaan panel surya,” kata Rema, Kamis, 22 Oktober 2026.

Memang, FC Dwipangga belum sepenuhnya meninggalkan bahan bakar fosil. Namun, sebagian kebutuhan energi yang sebelumnya bergantung pada mesin bantu kini dapat dialihkan ke energi matahari.


Menjaga titik penting distribusi energi

FC Dwipangga saat perawatan di SBM./ist


FC Dwipangga bukan sekadar kapal yang memanfaatkan energi surya. Keberadaannya berkaitan langsung dengan operasional kilang Pertamina di Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kapal ini digunakan untuk mendukung pekerjaan pemeliharaan fasilitas Single Point Mooring (SPM), yakni fasilitas tambat lepas pantai yang menjadi salah satu titik penting dalam proses bongkar muat produk minyak dari kapal tanker.

Rema menjelaskan, FC Dwipangga sebelumnya digunakan untuk pekerjaan pengerukan ringan di Jetty Propylene, pekerjaan konstruksi, serta mendukung kegiatan Pelsus. Seiring usia dan kebutuhan operasional, kapal tersebut kemudian lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu perbaikan aksesori SPM.

Peran itu tidak bisa dipisahkan dari kelancaran penerimaan dan distribusi energi. Fasilitas SPM menjadi titik tambat kapal tanker sebelum produk dipindahkan ke fasilitas penyimpanan atau pengolahan. Ketika fasilitas tersebut mengalami gangguan, proses sandar dan bongkar muat kapal dapat ikut terhambat.

Di Port Balongan, PTK mengelola 12 unit tugboat, terdiri atas delapan unit yang didedikasikan untuk RU Balongan dan empat unit untuk Integrated Terminal Balongan, termasuk mendukung distribusi gas di Eretan.

Rata-rata terdapat sekitar 45 tambatan kapal setiap bulan di wilayah layanan Port Balongan, mencakup RU Balongan, Integrated Terminal Balongan dan Eretan. Di tiga titik SPM, tugboat juga disiagakan ketika tidak ada kapal tanker untuk menjaga aksesori seperti floating hose dan mooring hawser agar tidak terbelit arus.

Bagi Rema, dukungan operasional di pelabuhan merupakan bagian penting dari rantai energi. Ketika kapal tanker tidak dapat bersandar atau fasilitas tidak siap digunakan, penerimaan kargo ke kilang berpotensi tertunda. Dampaknya dapat merambat pada proses pengolahan dan distribusi produk energi.

Ia menyebut peran PTK dalam rantai tersebut bersifat kritis, karena keterlambatan penyandaran kapal dapat berpengaruh hingga ke konsumen.

“Ketika kapal tidak disandarkan, otomatis tidak ada pembongkaran di sisi kilang, sehingga kilang tidak bisa produksi. Implikasinya akan sampai ke end user atau masyarakat, seperti SPBU dan semuanya,” ujar Rema.

Dalam konteks itu, penggunaan PLTS pada FC Dwipangga menjadi bagian dari upaya mengelola kebutuhan energi pada aset yang mendukung operasional maritim. Kapal tetap menjalankan fungsi utamanya, sementara sebagian kebutuhan listriknya mulai dipenuhi dengan sumber energi alternatif.


Dari satu kapal ke portofolio energi hijau

FC Dwipangga menjadi salah satu aset dalam portofolio energi hijau PTK. Nerisa Pitrasari, Manager Communication & Compliance PTK menjelaskan, PTK merupakan bagian dari Pertamina Group di bawah Subholding Integrated Marine Logistics yang menyediakan solusi maritim dan logistik terintegrasi terus mengembangkan program energi rendah karbon dalam operasionalnya.

Layanan utama PTK terbagi ke dalam empat pilar bisnis, yaitu Support Vessel (charter & brokerage, ship to ship, bunker management/service), Marine Services (crewing, ship agency, underwater services, dredging, oil spill response, fresh water supply, hingga revitalisasi pelabuhan), Port Operation (operasional pelabuhan dan standar RSO), serta Shorebase (logistics shorebase, cargo handling, dan warehousing).

Berdasarkan informasi yang dihimpun pada Laporan Keberlanjutan PTK 2025, PLTS tercatat terpasang di FC Dwipangga, kapal CB Transko Pari 1, Kantor Yos Sudarso, Shorebase Tanjung Batu, dan Shorebase Kabil Batam.

Pada 2025, program PLTS PTK mencatat reduksi emisi sebesar 339 ton CO₂e. FC Dwipangga menyumbang 98 ton CO₂e, meningkat dari 97 ton pada 2024. CB Transko Pari 1 mencatat 40 ton CO₂e, Shorebase Tanjung Batu 191 ton CO₂e, dan Shorebase Kabil Batam 10 ton CO₂e.

Secara keseluruhan, reduksi dari program PLTS tersebut mencapai 30,9 persen dari total reduksi emisi PTK pada 2025.

Selain panel surya, PTK mengembangkan shore connection atau cold ironing. Melalui sistem ini, kapal yang bersandar dapat menggunakan listrik dari darat sehingga mesin bantu tidak perlu menyala untuk memenuhi kebutuhan listrik selama berada di pelabuhan.

Program tersebut diterapkan pada tujuh kapal antara lain, TB Mega, TB Wonokromo, Transko Dara 3206, Transko Dara 3207, Transko Gelatik, Transko Sikatan dan Transko Rajawali. Reduksi emisi dari program shore connection mencapai 637 ton CO₂e pada 2025, meningkat dari 307 ton pada tahun sebelumnya.

PTK juga memanfaatkan bahan bakar rendah karbon. Pada 2025, konsumsi biodiesel B40 tercatat mencapai 34,49 juta liter, dengan energi terbarukan kapal sebesar 1.250.010 gigajoule. Sementara itu, kapal Transko Rajawali yang menggunakan mesin dual fuel LNG mencatat reduksi emisi 121 ton CO₂e. Perusahaan turut mengembangkan penggunaan bahan bakar alternatif, termasuk metanol dan uji coba Compressed Natural Gas (CNG).

Dalam wawancara di Port Balongan, Rema menyampaikan, saat ini 12 tugboat yang dikelola di wilayah tersebut telah menggunakan B50 sesuai program pemerintah.

“Jadi all tugboat 12 ini berbahan bakar solar grup menggunakan produk B50 sesuai program pemerintah,” kata Rema.

Berbagai program tersebut berkontribusi pada capaian reduksi emisi PTK. Pada 2025, total reduksi emisi dari program perusahaan mencapai 1.097 ton CO₂e, meningkat 129,98 persen dibandingkan 477 ton pada 2024. Emisi Cakupan 1 dan 2 tercatat sebesar 66.922 ton CO₂e, turun 60,78 persen dari 170.618 ton pada 2024.


 Efisiensi sebagai bagian dari strategi bisnis



Bagi PTK, pengembangan energi rendah karbon tidak berdiri sendiri sebagai program lingkungan. Inisiatif tersebut berkaitan dengan karakter bisnis perusahaan yang bergerak di bidang jasa maritim dan logistik energi.

Pada 2025, PTK mengoperasikan 370 kapal milik, dengan pendapatan Rp8,39 triliun dan laba tahun berjalan Rp1,32 triliun. Sekitar 81 persen pendapatan perusahaan berasal dari pelanggan di lingkungan Pertamina Group.

Artinya, kegiatan operasional PTK menjadi vital pada rantai pasok energi Pertamina. Kapal, layanan pelabuhan, keagenan, dan fasilitas logistik menjadi bagian dari proses yang menghubungkan energi dari satu titik ke titik lain.

oleh karena itu, efisiensi energi pada kapal dan fasilitas pendukung memiliki arti bisnis dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar, mengoptimalkan penggunaan aset, serta mendukung operasional maritim yang lebih rendah emisi.

PTK mengembangkan portofolio energi hijau sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060. Programnya tidak hanya mencakup penggunaan PLTS, tetapi juga pengembangan bahan bakar rendah karbon, elektrifikasi kebutuhan kapal saat bersandar, serta pengelolaan pelabuhan dan bangunan yang lebih ramah lingkungan.


Menyiapkan langkah berikutnya

Di Port Balongan, FC Dwipangga masih menjadi satu-satunya kapal yang menggunakan PLTS. Namun, Rema menyampaikan, PTK telah mempertimbangkan kemungkinan pemasangan panel surya pada dua tugboat pada 2027.

Dalam Laporan Keberlanjutan PTK 2025, pemasangan PLTS pada kapal Patra 2303 dan Patra 2304 juga disebut masih dalam tahap kajian.

Rema mengatakan, rencana pemasangan panel surya pada kapal lain di Port Balongan masih dalam tahap perencanaan.

“Secara schedule planning bakal ada, tapi kemungkinan belum di tahun ini, cuma wacananya bakal di tahun 2027,” ujarnya.

Sementara itu, panel surya juga dimanfaatkan pada sebagian fasilitas SPM untuk kebutuhan penerangan malam hari. Lampu tersebut membantu memberi penanda bagi kapal maupun nelayan yang melintas di sekitar fasilitas tambat lepas pantai.

Rema menyebut, PTK juga melakukan sejumlah langkah operasional untuk mengurangi penggunaan energi. Di antaranya mengatur pergerakan tugboat agar tidak melakukan manuver yang tidak diperlukan serta menyediakan kebutuhan air bersih dan perlengkapan dapur awak kapal dari darat, sehingga kapal tidak perlu bersandar hanya untuk mengambil kebutuhan rutin.

“Sebisa mungkin kami mengurangi olah gerak tugboat yang di luar operasional,” kata Rema.

Ia menjelaskan, kebutuhan air bersih dan perlengkapan dapur awak kapal dapat dikirim dari darat melalui program supporting on the spot, sehingga kapal tidak harus merapat ke dermaga hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin kru.

Langkah-langkah itu merupakan efisiensi energi yang tidak selalu bergantung pada penggantian teknologi besar. Pengaturan kerja, pemanfaatan aset, dan perubahan kebiasaan operasional juga menjadi bagian dari upaya mengurangi konsumsi energi.

Di atas FC Dwipangga, upaya tersebut terlihat pada rutinitas sederhana Rudi seperti memeriksa baterai, memastikan modul bekerja, lalu membersihkan panel yang menangkap cahaya matahari.

Kapal itu mungkin tidak selalu bergerak. Pada siang yang terik, ia bisa saja hanya bersandar di sisi jetty, menunggu panggilan untuk memperbaiki pipa apung atau fasilitas SPM.

Namun, ketika mesin bantu tidak perlu terus menyala untuk memenuhi kebutuhan listrik, sebagian energi yang dibutuhkan kapal datang dari sumber yang berbeda.

Di kapal kerja yang telah beroperasi hampir tiga dekade itu, panel surya menjadi gambaran kecil dari perubahan yang sedang dijalankan PTK dalam menjaga layanan maritim tetap bekerja, sambil mencari cara agar energi yang digunakan dalam prosesnya semakin efisien dan rendah emisi.*