Di Balik Tenggat Waktu, Merajut Ketahanan Finansial Jurnalis di Era Digital

Di sela-sela mobilitas liputan malam harinya, Tri menyempatkan diri memantau portofolio investasinya melalui ponsel pintar pada aplikasi OCTO Mobile, Kamis, 15 Oktober 2026. Kemudahan akses perbankan digital membantunya merajut ketahanan finansial secara konsisten di tengah padatnya rutinitas dan ketidakpastian arus kas pekerja lapangan.


CIREBON - Pagi belum sepenuhnya ramai ketika sepeda motor matic Tri mulai bergerak menuju lokasi liputan. Sebagai jurnalis yang sudah 12 tahun bekerja di industri media, perjalanan semacam itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Agenda liputan bisa datang dari banyak arah. Rapat pemerintah daerah, persoalan sosial di tengah masyarakat, kegiatan kebudayaan, perkembangan wilayah, sampai peristiwa besar yang terjadi tiba-tiba. Cirebon dan kawasan Ciayumajakuning menjadi wilayah kerja yang membuatnya cukup sering berpindah tempat.

Telepon pintar selalu ikut dibawa. Dari perangkat itu ia menerima informasi, menghubungi narasumber, mengambil gambar, menulis berita, hingga mengirimkan hasil liputan kepada redaksi.

Ketika pekerjaan belum selesai, warung pinggir jalan, ruang tunggu, atau pressroom bisa berubah menjadi meja kerja.

Bagi pembaca, sebuah berita mungkin hanya terlihat setelah diterbitkan. Beberapa paragraf yang selesai dibaca dalam hitungan menit menyimpan rangkaian pekerjaan di belakangnya.

Ada perjalanan yang harus ditempuh. Ada bensin yang harus dibeli. Ada parkir yang harus dibayar. Ada kuota internet yang harus tersedia. Motor yang setiap hari digunakan juga membutuhkan perawatan.

Biaya-biaya itu seringkali datang lebih cepat daripada honor yang masuk.

“Tantangan terbesar jurnalis kontributor di daerah itu ada pada ketidakpastian. Pengeluaran operasional untuk liputan, seperti bensin, parkir dan kuota itu sifatnya harian dan instan. Sementara honor baru turun bulanan, bahkan kadang mundur. Kalau gak pintar mengelola uang, sering kali justru 'nombok' duluan untuk bisa liputan,” kata wartawan media online ini, Kamis 15 Oktober 2026.

Kalimat itu menggambarkan persoalan yang sering luput ketika pekerjaan jurnalistik hanya dilihat dari hasil akhirnya.

Seorang jurnalis perlu hadir di lapangan agar berita dapat dibuat. Namun, untuk sampai ke lapangan diperlukan ongkos. Ketika pembayaran atas pekerjaan baru diterima kemudian, ada jarak waktu yang harus ditanggung lebih dulu oleh pekerja.

Bagi Tri, yang bekerja sebagai jurnalis dan kontributor salah satu media online di Cirebon, persoalan arus keuangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan.

Ia meliput berita lokal, isu sosial, kebudayaan, perkembangan wilayah serta berbagai peristiwa di Cirebon dan sekitarnya. Pendapatannya diperoleh melalui honor per artikel, terutama dalam pekerjaan sebagai freelance atau stringer.

Artinya, jumlah pemasukan tidak selalu memiliki pola yang sama setiap bulan. Sementara kebutuhan tetap berjalan.

Motor tetap perlu diisi bensin. Kuota internet tetap harus tersedia. Makan selama liputan tetap membutuhkan biaya. Ketika kendaraan perlu diservis, pengeluaran itu tidak dapat menunggu sampai kondisi keuangan benar-benar ideal.

Di situlah persoalan dalam mengatur uang mulai perlahan menemukan bentuknya.


Ketika Uang Honor Terasa Cepat Hilang

Selama bekerja, Tri sebelumnya tidak terbiasa mencatat pengeluaran pribadi secara teratur. Pengeluaran kecil sering dianggap tidak terlalu berarti.

Makan setelah liputan. Parkir. Bensin. Pembayaran tagihan. Top up dompet elektronik. Semuanya terlihat kecil ketika dilakukan satu per satu. Namun ternyata bukan nominal yang kecil ketika semua pengeluaran tersebut dikumpulkan.

“Dulu saya tidak pernah mencatat pengeluaran kecil. Efeknya, uang honor seperti menguap begitu saja. Sejak pakai fitur di aplikasi OCTO, dari mulai tarik tunai, bayar pakai QRIS sampai transfer tanpa biaya admin, semua riwayatnya langsung tercatat. Saya jadi tahu pasti ke mana setiap rupiah yang dihasilkan itu pergi,” akunya.

Namun memang perubahan tersebut bukan perkara aplikasi semata. Ada perubahan kebiasaan di belakangnya.

Ketika transaksi tercatat, pengeluaran yang sebelumnya mudah dilupakan menjadi lebih terlihat. Dari sana dapat mulai mengetahui pola penggunaan uangnya sendiri.

Bagi pekerja dengan pendapatan yang tidak selalu tetap, informasi semacam itu penting. Perencanaan tidak mungkin dibuat dengan baik jika seseorang tidak mengetahui berapa biaya yang sebenarnya dikeluarkan untuk menjalani hidup dan bekerja.

Kebutuhan dasar perlu dipisahkan dari pengeluaran yang masih dapat ditunda. Biaya kerja perlu dihitung sebagai bagian dari pengeluaran rutin. Dana untuk kebutuhan mendadak juga perlu mulai disiapkan.

Mencatat uang masuk dan keluar selama sebulan saja sudah dapat memberikan gambaran yang berbeda. Dari sana, seseorang dapat melihat berapa biaya transportasi, makan, tagihan, komunikasi dan kebutuhan lain yang sebenarnya.

Bagi jurnalis freelance seperti Tri, kebiasaan tersebut menjadi semakin penting karena pendapatan dan pengeluaran tidak bergerak dengan irama yang sama.

Kondisi tersebut juga membuat dana darurat menjadi bagian penting dalam perencanaan. Dana tersebut dapat menjadi bantalan ketika honor terlambat, kendaraan mengalami kerusakan, perangkat kerja bermasalah atau muncul kebutuhan mendesak lainnya.

Setelah kebutuhan dasar dan cadangan mulai diperhatikan, barulah tujuan jangka panjang dapat dibicarakan.

Bagi Tri, ada beberapa hal yang ingin dipersiapkan, sperti memiliki rumah sendiri, mempunyai perlindungan jiwa yang memadai, serta tabungan dan investasi untuk masa depan.

Keinginan yang tidak harus diwujudkan sekaligus. Justru perlu disusun berdasarkan kemampuan dan prioritas.

Persoalan keuangan akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar pendapatan yang diperoleh, tetapi seberapa baik pendapatan tersebut direncanakan.


Data di Balik Kesejahteraan Jurnalis

Persoalan yang dialami Tri bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Industri media juga menghadapi perubahan besar dalam model bisnis, pola konsumsi informasi dan cara perusahaan media memproduksi berita.

Dalam situasi tersebut, kesejahteraan jurnalis menjadi salah satu persoalan yang perlu dilihat secara serius.

Berdasarkan survei Upah Layak Jurnalis 2025 yang dilakukan AJI Jakarta terhadap 103 jurnalis di wilayah Jabodetabek menemukan 93,2 persen responden belum menerima upah yang dinilai memenuhi standar layak berdasarkan survei tersebut.

Angka itu tentu tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh jurnalis Indonesia. Responden berasal dari Jabodetabek dengan jumlah yang terbatas. Namun, survei tersebut memberikan gambaran mengenai persoalan ekonomi yang masih dihadapi pekerja media saat ini.

Di daerah, situasinya dapat memiliki karakteristik berbeda.

Jurnalis yang bekerja berdasarkan honor artikel harus memperhitungkan bukan hanya jumlah pemasukan, tetapi juga biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pekerjaan tersebut. Ketika honor terlambat, sebagian biaya pekerjaan sudah lebih dulu keluar.

Dalam jangka pendek, hal itu mungkin terlihat sebagai bagian biasa dari profesi. Namun, jika terjadi berulang, kondisi tersebut dapat mengganggu arus keuangan bulanan.

Di sinilah kemampuan mengelola keuangan menjadi penting. Bukan untuk menghilangkan persoalan pendapatan yang rendah atau tidak pasti.

Tetapi pengelolaan yang lebih baik dapat membantu seseorang mengetahui posisi keuangannya dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang sebenarnya.


Dari Transaksi Harian ke Kebiasaan Finansial

Di tengah kemajuan jaman, teknologi kemudian menawarkan salah satu alat untuk membantu pekerjaan tersebut.

Bagi jurnalis yang lebih banyak bekerja di lapangan, layanan perbankan digital memberikan keleluasaan untuk melakukan transaksi tanpa harus mencari kantor cabang atau ATM.

Transfer honor dapat dilakukan langsung ke rekening. Pembayaran makanan atau kebutuhan lain dapat dilakukan dengan QRIS. Tagihan dapat dibayar melalui aplikasi. Saldo dompet elektronik juga dapat diisi ketika diperlukan.

Bagi Tri, yang berpindah dari satu lokasi liputan ke lokasi lainnya, kemudahan semacam itu cukup relevan.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan aplikasi yaitu memutuskan apakah sebuah pengeluaran memang diperlukan.

Teknologi membuat transaksi menjadi lebih mudah. Karena itu, pengyunanya justru perlu lebih sadar terhadap transaksi yang dilakukan.

Pembayaran digital tidak terasa seperti mengeluarkan lembaran uang. Satu kali pemindaian QRIS selesai. Satu sentuhan layar menyelesaikan transfer. Jika tidak dicatat atau dipantau, pengeluaran kecil dapat menumpuk tanpa disadari.

CIMB Niaga melihat perubahan tersebut sebagai bagian dari pergeseran kebiasaan finansial masyarakat, terutama generasi muda.

Head of Marketing, Brand & Customers Experience CIMB Niaga, Amir Widjaya mengatakan, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu fondasi penting agar generasi muda dapat terus berkembang dan mencapai tujuan hidup.

“Kami melihat generasi muda Indonesia memiliki semangat besar untuk terus maju dan mewujudkan berbagai aspirasi mereka. Namun di balik aspirasi tersebut, mereka juga menghadapi berbagai tantangan finansial, mulai dari mengelola penghasilan pertama, menentukan prioritas antara kebutuhan saat ini dan tujuan masa depan, hingga menghadapi ketidakpastian yang dapat muncul kapan saja,” ujar Amir dalam keterangan pers, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi alasan CIMB Niaga mengembangkan pendekatan Jurus O-C-T-O, yakni Olah Dana, Capai Mimpi, Tangkis Risiko, dan Optimalkan Keseruan.

Bagi Tri, bagian pertama dari pendekatan tersebut justru menjadi persoalan yang paling dekat dengan kesehariannya, bagaimana mengolah dana yang jumlahnya tidak selalu sama setiap bulan.

Aplikasi dapat membantu mencatat transaksi. Namun, keputusan untuk menyisihkan uang, menahan pengeluaran ataupun menetapkan target tetap berada pada penggunanya.

Itulah sebabnya perubahan kebiasaan menjadi bagian penting dari cerita ini.

Tri tidak tiba-tiba memiliki pendapatan lebih besar. Yang berubah adalah cara melihat uang yang diterima dari setiap pekerjaan.

Honor liputan tidak lagi sekedar uang yang digunakan sampai habis. Setiap transaksi mulai dapat dilihat sebagai bagian dari keseluruhan arus keuangan.


Menabung untuk Tujuan yang Lebih Jauh

Ketika kebutuhan sehari-hari mulai lebih terukur, perhatian dapat diarahkan pada masa depan.

Bagi Tri, masa depan itu memiliki bentuk yang cukup jelas, seperti rumah sendiri, perlindungan yang memadai, dan persiapan finansial ketika pekerjaan tidak lagi seaktif sekarang.

Investasi menjadi salah satu pilihan yang mulai dipelajari.

Tri yang dulu melihat investasi terasa seperti sesuatu yang jauh. Ada anggapan investasi membutuhkan uang besar dan pendapatan yang stabil, kini menemukan pandangan yang berbeda.

“Dulu saya pikir investasi itu cuma buat orang berkantong tebal atau yang punya gaji tetap bulanan. Tapi begitu tahu di fitur CRISP aplikasi OCTO kita bisa mulai investasi dengan nominal yang terjangkau secara otomatis. Buat pekerja lepas seperti saya, bukan nominal besarnya yang utama, tapi konsistensi. Menyisihkan sedikit honor secara rutin bikin merasa punya persiapan untuk masa depan,” katanya.

Pemahaman tersebut penting karena investasi bukan soal mengejar jumlah besar dalam waktu singkat.

Untuk pekerja dengan pendapatan tidak tetap, konsistensi memang menjadi tantangan tersendiri. Jumlah yang dapat disisihkan pada satu bulan belum tentu sama pada bulan berikutnya.

Karena itu, sebelum investasi, kebutuhan dasar dan dana darurat tetap perlu diperhitungkan. Dana yang mungkin diperlukan dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditempatkan pada instrumen yang memiliki risiko fluktuasi tanpa mempertimbangkan kebutuhan likuiditas.

Investasi juga perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan, jangka waktu, dan kemampuan masing-masing.

CIMB Niaga melalui inisiatif #GetWealthSoon menyediakan sejumlah pilihan investasi digital, termasuk reksa dana dan obligasi. Dalam materi perusahaan yang diperkenalkan pada 2024, CIMB Niaga juga memperkenalkan CRISP atau CIMB Niaga Regular Investment Saving Plan yang memungkinkan investasi dilakukan secara rutin melalui pendebetan otomatis.

Materi tersebut menyebut investasi dapat dimulai dari Rp10 ribu dengan pilihan jangka waktu satu hingga 10 tahun. Ketentuan produk dapat berubah, sehingga informasi terbaru tetap perlu diperiksa sebelum seseorang mengambil keputusan investasi.

Menyisihkan sejumlah uang secara teratur membuat tujuan jangka panjang terasa lebih terlihat. Ada uang yang memang sejak awal diarahkan untuk kebutuhan masa depan, bukan ikut bercampur dengan uang untuk kebutuhan harian.

CIMB Niaga mencatat transaksi reksa dana melalui OCTO pada semester I 2026 meningkat 48 persen secara tahunan, sementara transaksi obligasi meningkat 112 persen. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan penggunaan produk investasi digital di kalangan nasabah CIMB Niaga.


Ketika Keamanan Menjadi Bagian dari Ketahanan Finansial

Namun, meningkatnya akses tidak berarti setiap orang harus berinvestasi. Akses yang lebih mudah justru membuat pemahaman menjadi semakin penting.

Investasi tetap memiliki risiko. Nilai dapat berubah. Produk memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada tujuan dan kemampuan bukan semata-mata karena sebuah produk terlihat mudah dibeli melalui aplikasi.

Selain itu ada satu persoalan lain yang ikut muncul ketika semakin banyak aktivitas keuangan berpindah ke telepon pintar yaitu faktor keamanan.

Ponsel yang digunakan Tri untuk bekerja juga menjadi alat untuk melakukan transaksi. Satu perangkat dapat menyimpan komunikasi dengan narasumber, dokumen pekerjaan, foto liputan, aplikasi media sosial, hingga akses ke rekening.

Jika tidak dijaga, kemudahan tersebut bisa berubah menjadi risiko.

Pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank, tautan yang meminta pengguna memperbarui data, atau panggilan yang mengaku berasal dari layanan pelanggan perlu diperiksa dengan hati-hati.

PIN, password, OTP, User ID, passcode, M-PIN, dan data kartu merupakan informasi yang tidak boleh diberikan kepada pihak lain.

CIMB Niaga juga mengingatkan nasabah mengenai berbagai modus penipuan digital, termasuk phishing, smishing, vishing, akun media sosial palsu, serta penipuan melalui QR code.

Kebiasaan sederhana seperti tidak sembarang membuka tautan, memeriksa alamat situs, menggunakan aplikasi resmi, dan mengaktifkan pengamanan perangkat dapat menjadi lapisan perlindungan.

Bagi jurnalis yang terbiasa bergerak cepat, tantangannya justru ada pada kesediaan untuk berhenti sebentar sebelum menekan sebuah tautan atau menyetujui transaksi.

Keamanan finansial tidak hanya berkaitan dengan jumlah uang yang disimpan. Uang yang sudah berhasil dikumpulkan pun perlu dijaga.

CIMB Niaga menyediakan Ask OCTO melalui aplikasi OCTO dan WhatsApp resmi sebagai kanal layanan bagi nasabah. Layanan tersebut memungkinkan nasabah terhubung melalui chat maupun panggilan WhatsApp selama 24 jam setiap hari tanpa biaya pulsa, dengan koneksi internet.

Head of Digital Banking & Contact Center CIMB Niaga, Lusiana Saleh mengatakan, perkembangan layanan digital membuat kebutuhan nasabah terhadap akses yang practical semakin tinggi.

“Aplikasi OCTO dirancang untuk memudahkan nasabah memenuhi berbagai kebutuhan finansial dalam satu platform terintegrasi. Mulai dari transaksi harian, pembukaan tabungan, berinvestasi, hingga mengajukan pinjaman sesuai kebutuhan. Dengan kemudahan ini, pengelolaan keuangan menjadi lebih praktis, efisien, dan relevan dengan kebutuhan keluarga saat ini,” ujar Lusiana.

Kehadiran layanan 24 jam memberi pilihan ketika nasabah menghadapi kendala di luar jam kerja. Namun, layanan yang tersedia sepanjang waktu tidak berarti seluruh persoalan dapat diselesaikan seketika. Beberapa masalah tetap membutuhkan verifikasi dan proses penanganan sesuai jenis kasusnya.

Yang penting, nasabah mengetahui kanal yang benar dan tidak meminta bantuan melalui nomor yang diberikan pihak tidak dikenal.


Ketenangan yang Ikut Menjaga Kualitas Berita

Ada alasan lain mengapa persoalan finansial menjadi penting bagi seorang jurnalis.

Pekerjaan jurnalistik membutuhkan konsentrasi. Seorang reporter harus mendengarkan narasumber, memeriksa informasi, membandingkan data, kemudian menyusun berita.

Kecemasan tentang kebutuhan sehari-hari tidak selalu terlihat ketika seorang jurnalis sedang bekerja. Tetapi beban tersebut dapat ikut terbawa.

Bagi Tri, pengelolaan keuangan yang lebih tertata memberikan efek yang melampaui urusan rekening.

“Sebagai jurnalis, fokus harusnya ada pada berita, bukan dipusingkan oleh kerumitan finansial atau rasa cemas soal masa depan. Memiliki sistem keuangan yang tertata dan aman membuat pikiran jauh lebih tenang,” ujarnya.

Persoalan kesejahteraan jurnalis tidak akan selesai hanya dengan aplikasi perbankan.

OCTO tidak membuat biaya bensin menjadi lebih murah. QRIS tidak otomatis membuat honor liputan bertambah. Investasi juga tidak menjamin keuntungan.

Ada persoalan yang jauh lebih besar di dalam industri media, model bisnis yang berubah, kepastian penghasilan, perlindungan pekerja, dan kebutuhan akan upah yang layak.

Bagi Tri, persoalan keuangan kini tidak lagi sekadar tentang bagaimana bertahan sampai honor berikutnya. Ada tujuan yang lebih jauh seperti rumah yang ingin dimiliki, perlindungan yang ingin disiapkan, dan sejumlah uang yang ingin disisihkan untuk masa depan.

Pekerjaannya tetap sama. Ia masih akan menaiki sepeda motor untuk mengejar liputan, masih membawa telepon pintar, masih mencari narasumber dan masih menulis berita ketika tenggat semakin dekat.

Yang berubah adalah cara memandang hasil dari pekerjaan itu. Setiap honor bukan lagi sekadar uang yang datang kemudian habis. Ada sebagian yang digunakan untuk menjalani hari. Ada yang dipersiapkan untuk keadaan tak terduga. Ada pula yang diarahkan untuk masa depan.

Ketahanan finansial pada akhirnya bukan tentang menjadi kaya dalam waktu singkat. Ia lebih sederhana dari itu, mengetahui keadaan sendiri, memiliki rencana, dan masih mempunyai pilihan ketika keadaan berubah.

Seorang jurnalis terbiasa bekerja dengan tenggat. Berita harus selesai hari ini. Foto harus dikirim. Informasi harus diverifikasi sebelum diterbitkan.

Dan bagi Tri, menata keuangan mungkin menjadi salah satu cara untuk memastikan, setelah satu berita selesai ditulis dan tenggat berikutnya datang, masih ada ruang untuk memikirkan kehidupan yang lebih panjang dari sekadar hari ini.*