CIREBON -
Pagi belum sepenuhnya ramai ketika sepeda motor matic Tri mulai bergerak menuju
lokasi liputan. Sebagai jurnalis yang sudah 12 tahun bekerja di industri media,
perjalanan semacam itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Agenda liputan bisa datang dari banyak arah. Rapat
pemerintah daerah, persoalan sosial di tengah masyarakat, kegiatan kebudayaan,
perkembangan wilayah, sampai peristiwa besar yang terjadi tiba-tiba. Cirebon
dan kawasan Ciayumajakuning menjadi wilayah kerja yang membuatnya cukup sering berpindah
tempat.
Telepon pintar selalu ikut dibawa. Dari perangkat itu ia
menerima informasi, menghubungi narasumber, mengambil gambar, menulis berita,
hingga mengirimkan hasil liputan kepada redaksi.
Ketika pekerjaan belum selesai, warung pinggir jalan, ruang
tunggu, atau pressroom bisa berubah menjadi meja kerja.
Bagi pembaca, sebuah berita mungkin hanya terlihat
setelah diterbitkan. Beberapa paragraf yang selesai dibaca dalam hitungan menit
menyimpan rangkaian pekerjaan di belakangnya.
Ada perjalanan yang harus ditempuh. Ada bensin yang
harus dibeli. Ada parkir yang harus dibayar. Ada kuota internet yang harus
tersedia. Motor yang setiap hari digunakan juga membutuhkan perawatan.
Biaya-biaya itu seringkali datang lebih cepat daripada
honor yang masuk.
“Tantangan terbesar jurnalis kontributor di daerah itu
ada pada ketidakpastian. Pengeluaran operasional untuk liputan, seperti bensin,
parkir dan kuota itu sifatnya harian dan instan. Sementara honor baru turun
bulanan, bahkan kadang mundur. Kalau gak pintar mengelola uang, sering kali
justru 'nombok' duluan untuk bisa liputan,” kata wartawan media online ini,
Kamis 15 Oktober 2026.
Kalimat itu menggambarkan persoalan yang sering luput
ketika pekerjaan jurnalistik hanya dilihat dari hasil akhirnya.
Seorang jurnalis perlu hadir di lapangan agar berita
dapat dibuat. Namun, untuk sampai ke lapangan diperlukan ongkos. Ketika
pembayaran atas pekerjaan baru diterima kemudian, ada jarak waktu yang harus
ditanggung lebih dulu oleh pekerja.
Bagi Tri, yang bekerja sebagai jurnalis dan kontributor
salah satu media online di Cirebon, persoalan arus keuangan menjadi bagian yang
tidak terpisahkan dari pekerjaan.
Ia meliput berita lokal, isu sosial, kebudayaan,
perkembangan wilayah serta berbagai peristiwa di Cirebon dan sekitarnya.
Pendapatannya diperoleh melalui honor per artikel, terutama dalam pekerjaan
sebagai freelance atau stringer.
Artinya, jumlah pemasukan tidak selalu memiliki pola
yang sama setiap bulan. Sementara kebutuhan tetap berjalan.
Motor tetap perlu diisi bensin. Kuota internet tetap
harus tersedia. Makan selama liputan tetap membutuhkan biaya. Ketika kendaraan
perlu diservis, pengeluaran itu tidak dapat menunggu sampai kondisi keuangan
benar-benar ideal.
Di situlah persoalan dalam mengatur uang mulai perlahan
menemukan bentuknya.
Ketika
Uang Honor Terasa Cepat Hilang
Selama bekerja, Tri sebelumnya tidak terbiasa mencatat
pengeluaran pribadi secara teratur. Pengeluaran kecil sering dianggap tidak
terlalu berarti.
Makan setelah liputan. Parkir. Bensin. Pembayaran
tagihan. Top up dompet elektronik. Semuanya terlihat kecil ketika dilakukan
satu per satu. Namun ternyata bukan nominal yang kecil ketika semua pengeluaran
tersebut dikumpulkan.
“Dulu saya tidak pernah mencatat pengeluaran kecil.
Efeknya, uang honor seperti menguap begitu saja. Sejak pakai fitur di aplikasi
OCTO, dari mulai tarik tunai, bayar pakai QRIS sampai transfer tanpa biaya
admin, semua riwayatnya langsung tercatat. Saya jadi tahu pasti ke mana setiap
rupiah yang dihasilkan itu pergi,” akunya.
Namun memang perubahan tersebut bukan perkara aplikasi
semata. Ada perubahan kebiasaan di belakangnya.
Ketika transaksi tercatat, pengeluaran yang sebelumnya
mudah dilupakan menjadi lebih terlihat. Dari sana dapat mulai mengetahui pola
penggunaan uangnya sendiri.
Bagi pekerja dengan pendapatan yang tidak selalu tetap,
informasi semacam itu penting. Perencanaan tidak mungkin dibuat dengan baik
jika seseorang tidak mengetahui berapa biaya yang sebenarnya dikeluarkan untuk
menjalani hidup dan bekerja.
Kebutuhan dasar perlu dipisahkan dari pengeluaran yang
masih dapat ditunda. Biaya kerja perlu dihitung sebagai bagian dari pengeluaran
rutin. Dana untuk kebutuhan mendadak juga perlu mulai disiapkan.
Mencatat uang masuk dan keluar selama sebulan saja
sudah dapat memberikan gambaran yang berbeda. Dari sana, seseorang dapat
melihat berapa biaya transportasi, makan, tagihan, komunikasi dan kebutuhan
lain yang sebenarnya.
Bagi jurnalis freelance seperti Tri, kebiasaan tersebut
menjadi semakin penting karena pendapatan dan pengeluaran tidak bergerak dengan
irama yang sama.
Kondisi tersebut juga membuat dana darurat menjadi
bagian penting dalam perencanaan. Dana tersebut dapat menjadi bantalan ketika
honor terlambat, kendaraan mengalami kerusakan, perangkat kerja bermasalah atau
muncul kebutuhan mendesak lainnya.
Setelah kebutuhan dasar dan cadangan mulai
diperhatikan, barulah tujuan jangka panjang dapat dibicarakan.
Bagi Tri, ada beberapa hal yang ingin dipersiapkan,
sperti memiliki rumah sendiri, mempunyai perlindungan jiwa yang memadai, serta
tabungan dan investasi untuk masa depan.
Keinginan yang tidak harus diwujudkan sekaligus. Justru
perlu disusun berdasarkan kemampuan dan prioritas.
Persoalan keuangan akhirnya bukan hanya tentang
seberapa besar pendapatan yang diperoleh, tetapi seberapa baik pendapatan
tersebut direncanakan.
Data di
Balik Kesejahteraan Jurnalis
Persoalan yang dialami Tri bukan sesuatu yang berdiri
sendiri. Industri media juga menghadapi perubahan besar dalam model bisnis,
pola konsumsi informasi dan cara perusahaan media memproduksi berita.
Dalam situasi tersebut, kesejahteraan jurnalis menjadi
salah satu persoalan yang perlu dilihat secara serius.
Berdasarkan survei Upah Layak Jurnalis 2025 yang
dilakukan AJI Jakarta terhadap 103 jurnalis di wilayah Jabodetabek menemukan
93,2 persen responden belum menerima upah yang dinilai memenuhi standar layak
berdasarkan survei tersebut.
Angka itu tentu tidak dapat digunakan untuk
menggambarkan seluruh jurnalis Indonesia. Responden berasal dari Jabodetabek
dengan jumlah yang terbatas. Namun, survei tersebut memberikan gambaran
mengenai persoalan ekonomi yang masih dihadapi pekerja media saat ini.
Di daerah, situasinya dapat memiliki karakteristik
berbeda.
Jurnalis yang bekerja berdasarkan honor artikel harus
memperhitungkan bukan hanya jumlah pemasukan, tetapi juga biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan pekerjaan tersebut. Ketika honor terlambat,
sebagian biaya pekerjaan sudah lebih dulu keluar.
Dalam jangka pendek, hal itu mungkin terlihat sebagai
bagian biasa dari profesi. Namun, jika terjadi berulang, kondisi tersebut dapat
mengganggu arus keuangan bulanan.
Di sinilah kemampuan mengelola keuangan menjadi
penting. Bukan untuk menghilangkan persoalan pendapatan yang rendah atau tidak
pasti.
Tetapi pengelolaan yang lebih baik dapat membantu
seseorang mengetahui posisi keuangannya dan mengambil keputusan berdasarkan
kondisi yang sebenarnya.
Dari
Transaksi Harian ke Kebiasaan Finansial
Di tengah kemajuan jaman, teknologi kemudian menawarkan
salah satu alat untuk membantu pekerjaan tersebut.
Bagi jurnalis yang lebih banyak bekerja di lapangan,
layanan perbankan digital memberikan keleluasaan untuk melakukan transaksi
tanpa harus mencari kantor cabang atau ATM.
Transfer honor dapat dilakukan langsung ke rekening.
Pembayaran makanan atau kebutuhan lain dapat dilakukan dengan QRIS. Tagihan
dapat dibayar melalui aplikasi. Saldo dompet elektronik juga dapat diisi ketika
diperlukan.
Bagi Tri, yang berpindah dari satu lokasi liputan ke
lokasi lainnya, kemudahan semacam itu cukup relevan.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan aplikasi
yaitu memutuskan apakah sebuah pengeluaran memang diperlukan.
Teknologi membuat transaksi menjadi lebih mudah. Karena
itu, pengyunanya justru perlu lebih sadar terhadap transaksi yang dilakukan.
Pembayaran digital tidak terasa seperti mengeluarkan
lembaran uang. Satu kali pemindaian QRIS selesai. Satu sentuhan layar
menyelesaikan transfer. Jika tidak dicatat atau dipantau, pengeluaran kecil
dapat menumpuk tanpa disadari.
CIMB Niaga melihat perubahan tersebut sebagai bagian
dari pergeseran kebiasaan finansial masyarakat, terutama generasi muda.
Head of Marketing, Brand & Customers Experience
CIMB Niaga, Amir Widjaya mengatakan, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah
satu fondasi penting agar generasi muda dapat terus berkembang dan mencapai
tujuan hidup.
“Kami melihat generasi muda Indonesia memiliki semangat
besar untuk terus maju dan mewujudkan berbagai aspirasi mereka. Namun di balik
aspirasi tersebut, mereka juga menghadapi berbagai tantangan finansial, mulai
dari mengelola penghasilan pertama, menentukan prioritas antara kebutuhan saat
ini dan tujuan masa depan, hingga menghadapi ketidakpastian yang dapat muncul
kapan saja,” ujar Amir dalam keterangan pers, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi alasan CIMB Niaga
mengembangkan pendekatan Jurus O-C-T-O, yakni Olah Dana, Capai Mimpi, Tangkis
Risiko, dan Optimalkan Keseruan.
Bagi Tri, bagian pertama dari pendekatan tersebut
justru menjadi persoalan yang paling dekat dengan kesehariannya, bagaimana
mengolah dana yang jumlahnya tidak selalu sama setiap bulan.
Aplikasi dapat membantu mencatat transaksi. Namun,
keputusan untuk menyisihkan uang, menahan pengeluaran ataupun menetapkan target
tetap berada pada penggunanya.
Itulah sebabnya perubahan kebiasaan menjadi bagian
penting dari cerita ini.
Tri tidak tiba-tiba memiliki pendapatan lebih besar.
Yang berubah adalah cara melihat uang yang diterima dari setiap pekerjaan.
Honor liputan tidak lagi sekedar uang yang digunakan
sampai habis. Setiap transaksi mulai dapat dilihat sebagai bagian dari
keseluruhan arus keuangan.
Menabung
untuk Tujuan yang Lebih Jauh
Ketika kebutuhan sehari-hari mulai lebih terukur,
perhatian dapat diarahkan pada masa depan.
Bagi Tri, masa depan itu memiliki bentuk yang cukup
jelas, seperti rumah sendiri, perlindungan yang memadai, dan persiapan
finansial ketika pekerjaan tidak lagi seaktif sekarang.
Investasi menjadi salah satu pilihan yang mulai
dipelajari.
Tri yang dulu melihat investasi terasa seperti sesuatu
yang jauh. Ada anggapan investasi membutuhkan uang besar dan pendapatan yang
stabil, kini menemukan pandangan yang berbeda.
“Dulu saya pikir investasi itu cuma buat orang
berkantong tebal atau yang punya gaji tetap bulanan. Tapi begitu tahu di fitur
CRISP aplikasi OCTO kita bisa mulai investasi dengan nominal yang terjangkau
secara otomatis. Buat pekerja lepas seperti saya, bukan nominal besarnya yang
utama, tapi konsistensi. Menyisihkan sedikit honor secara rutin bikin merasa
punya persiapan untuk masa depan,” katanya.
Pemahaman tersebut penting karena investasi bukan soal
mengejar jumlah besar dalam waktu singkat.
Untuk pekerja dengan pendapatan tidak tetap,
konsistensi memang menjadi tantangan tersendiri. Jumlah yang dapat disisihkan
pada satu bulan belum tentu sama pada bulan berikutnya.
Karena itu, sebelum investasi, kebutuhan dasar dan dana
darurat tetap perlu diperhitungkan. Dana yang mungkin diperlukan dalam waktu
dekat sebaiknya tidak ditempatkan pada instrumen yang memiliki risiko fluktuasi
tanpa mempertimbangkan kebutuhan likuiditas.
Investasi juga perlu disesuaikan dengan profil risiko,
tujuan, jangka waktu, dan kemampuan masing-masing.
CIMB Niaga melalui inisiatif #GetWealthSoon menyediakan
sejumlah pilihan investasi digital, termasuk reksa dana dan obligasi. Dalam
materi perusahaan yang diperkenalkan pada 2024, CIMB Niaga juga memperkenalkan
CRISP atau CIMB Niaga Regular Investment Saving Plan yang memungkinkan
investasi dilakukan secara rutin melalui pendebetan otomatis.
Materi tersebut menyebut investasi dapat dimulai dari
Rp10 ribu dengan pilihan jangka waktu satu hingga 10 tahun. Ketentuan produk
dapat berubah, sehingga informasi terbaru tetap perlu diperiksa sebelum
seseorang mengambil keputusan investasi.
Menyisihkan sejumlah uang secara teratur membuat tujuan
jangka panjang terasa lebih terlihat. Ada uang yang memang sejak awal diarahkan
untuk kebutuhan masa depan, bukan ikut bercampur dengan uang untuk kebutuhan
harian.
CIMB Niaga mencatat transaksi reksa dana melalui OCTO
pada semester I 2026 meningkat 48 persen secara tahunan, sementara transaksi
obligasi meningkat 112 persen. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan
penggunaan produk investasi digital di kalangan nasabah CIMB Niaga.
Ketika
Keamanan Menjadi Bagian dari Ketahanan Finansial
Namun, meningkatnya akses tidak berarti setiap orang
harus berinvestasi. Akses yang lebih mudah justru membuat pemahaman menjadi
semakin penting.
Investasi tetap memiliki risiko. Nilai dapat berubah.
Produk memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, keputusan investasi
sebaiknya didasarkan pada tujuan dan kemampuan bukan semata-mata karena sebuah
produk terlihat mudah dibeli melalui aplikasi.
Selain itu ada satu persoalan lain yang ikut muncul
ketika semakin banyak aktivitas keuangan berpindah ke telepon pintar yaitu
faktor keamanan.
Ponsel yang digunakan Tri untuk bekerja juga menjadi
alat untuk melakukan transaksi. Satu perangkat dapat menyimpan komunikasi
dengan narasumber, dokumen pekerjaan, foto liputan, aplikasi media sosial,
hingga akses ke rekening.
Jika tidak dijaga, kemudahan tersebut bisa berubah
menjadi risiko.
Pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank, tautan yang
meminta pengguna memperbarui data, atau panggilan yang mengaku berasal dari
layanan pelanggan perlu diperiksa dengan hati-hati.
PIN, password, OTP, User ID, passcode, M-PIN, dan data
kartu merupakan informasi yang tidak boleh diberikan kepada pihak lain.
CIMB Niaga juga mengingatkan nasabah mengenai berbagai
modus penipuan digital, termasuk phishing, smishing, vishing, akun media sosial
palsu, serta penipuan melalui QR code.
Kebiasaan sederhana seperti tidak sembarang membuka
tautan, memeriksa alamat situs, menggunakan aplikasi resmi, dan mengaktifkan
pengamanan perangkat dapat menjadi lapisan perlindungan.
Bagi jurnalis yang terbiasa bergerak cepat,
tantangannya justru ada pada kesediaan untuk berhenti sebentar sebelum menekan
sebuah tautan atau menyetujui transaksi.
Keamanan finansial tidak hanya berkaitan dengan jumlah
uang yang disimpan. Uang yang sudah berhasil dikumpulkan pun perlu dijaga.
CIMB Niaga menyediakan Ask OCTO melalui aplikasi OCTO
dan WhatsApp resmi sebagai kanal layanan bagi nasabah. Layanan tersebut
memungkinkan nasabah terhubung melalui chat maupun panggilan WhatsApp selama 24
jam setiap hari tanpa biaya pulsa, dengan koneksi internet.
Head of Digital Banking & Contact Center CIMB
Niaga, Lusiana Saleh mengatakan, perkembangan layanan digital membuat kebutuhan
nasabah terhadap akses yang practical semakin tinggi.
“Aplikasi OCTO dirancang untuk memudahkan nasabah
memenuhi berbagai kebutuhan finansial dalam satu platform terintegrasi. Mulai
dari transaksi harian, pembukaan tabungan, berinvestasi, hingga mengajukan
pinjaman sesuai kebutuhan. Dengan kemudahan ini, pengelolaan keuangan menjadi
lebih praktis, efisien, dan relevan dengan kebutuhan keluarga saat ini,” ujar
Lusiana.
Kehadiran layanan 24 jam memberi pilihan ketika nasabah
menghadapi kendala di luar jam kerja. Namun, layanan yang tersedia sepanjang
waktu tidak berarti seluruh persoalan dapat diselesaikan seketika. Beberapa
masalah tetap membutuhkan verifikasi dan proses penanganan sesuai jenis
kasusnya.
Yang penting, nasabah mengetahui kanal yang benar dan
tidak meminta bantuan melalui nomor yang diberikan pihak tidak dikenal.
Ketenangan
yang Ikut Menjaga Kualitas Berita
Ada alasan lain mengapa persoalan finansial menjadi
penting bagi seorang jurnalis.
Pekerjaan jurnalistik membutuhkan konsentrasi. Seorang
reporter harus mendengarkan narasumber, memeriksa informasi, membandingkan
data, kemudian menyusun berita.
Kecemasan tentang kebutuhan sehari-hari tidak selalu
terlihat ketika seorang jurnalis sedang bekerja. Tetapi beban tersebut dapat
ikut terbawa.
Bagi Tri, pengelolaan keuangan yang lebih tertata
memberikan efek yang melampaui urusan rekening.
“Sebagai jurnalis, fokus harusnya ada pada berita,
bukan dipusingkan oleh kerumitan finansial atau rasa cemas soal masa depan.
Memiliki sistem keuangan yang tertata dan aman membuat pikiran jauh lebih
tenang,” ujarnya.
Persoalan kesejahteraan jurnalis tidak akan selesai
hanya dengan aplikasi perbankan.
OCTO tidak membuat biaya bensin menjadi lebih murah.
QRIS tidak otomatis membuat honor liputan bertambah. Investasi juga tidak
menjamin keuntungan.
Ada persoalan yang jauh lebih besar di dalam industri
media, model bisnis yang berubah, kepastian penghasilan, perlindungan pekerja,
dan kebutuhan akan upah yang layak.
Bagi Tri, persoalan keuangan kini tidak lagi sekadar
tentang bagaimana bertahan sampai honor berikutnya. Ada tujuan yang lebih jauh
seperti rumah yang ingin dimiliki, perlindungan yang ingin disiapkan, dan
sejumlah uang yang ingin disisihkan untuk masa depan.
Pekerjaannya tetap sama. Ia masih akan menaiki sepeda
motor untuk mengejar liputan, masih membawa telepon pintar, masih mencari
narasumber dan masih menulis berita ketika tenggat semakin dekat.
Yang berubah adalah cara memandang hasil dari
pekerjaan itu. Setiap honor bukan lagi sekadar uang yang datang kemudian habis.
Ada sebagian yang digunakan untuk menjalani hari. Ada yang dipersiapkan untuk
keadaan tak terduga. Ada pula yang diarahkan untuk masa depan.
Ketahanan finansial pada akhirnya bukan tentang
menjadi kaya dalam waktu singkat. Ia lebih sederhana dari itu, mengetahui
keadaan sendiri, memiliki rencana, dan masih mempunyai pilihan ketika keadaan
berubah.
Seorang jurnalis terbiasa bekerja dengan tenggat.
Berita harus selesai hari ini. Foto harus dikirim. Informasi harus diverifikasi
sebelum diterbitkan.
Dan bagi Tri, menata keuangan mungkin menjadi salah
satu cara untuk memastikan, setelah satu berita selesai ditulis dan tenggat
berikutnya datang, masih ada ruang untuk memikirkan kehidupan yang lebih
panjang dari sekadar hari ini.*
