Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati, Mukarto Siswoyo, saat membuka manasik umrah jamaah Yayasa Pendidikan Swadaya Gunung Jati |
CN – Menjadi tamu Allah merupakan
anugerah yang harus disambut dengan rasa syukur dan niat yang benar.
Pesan tersebut diungkapkan Ketua
Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati,
Mukarto Siswoyo, Mukarto saat membuka kegiatan manasik umrah jamaah
Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati bersama ICMI Travel IT-310 di Kantor
Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati, Jalan Stadion Bima No. 1, Kota Cirebon,
Sabtu, 15 Agustus 2026.
Di hadapan calon jamaah, Mukarto
menekankan pentingnya meluruskan niat. Menurutnya, seseorang yang memiliki uang
banyak dan kondisi kesehatan yang baik belum tentu mendapatkan kesempatan untuk
berangkat ke Tanah Suci.
“Jangan salah niat. Yang banyak
uang dan badannya sehat belum tentu bisa berangkat. Jadi, kita harus bersyukur
bahwa kita yang terpilih ini adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk
bertamu di rumah Allah,” ujar Mukarto.
Menurutnya, umrah tidak boleh
dipandang sekadar sebagai perjalanan dari Indonesia menuju Arab Saudi. Lebih
dari itu, perjalanan tersebut harus menjadi momentum untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT.
Dalam kesempatan tersebut,
Mukarto juga membagikan pengalaman pribadinya tentang kekuatan doa dan
keyakinan. Ia mengisahkan doanya setelah menunaikan ibadah haji. Saat itu,
Mukarto memohon kepada Allah agar kembali diberikan keturunan. “Saya pernah
berdoa setelah pulang ibadah haji. Saya meminta kepada Allah, dari rahim istri
saya, ya Allah, berikan saya seorang anak lagi,” kenangnya.
Sekitar satu bulan setelah pulang
dari Tanah Suci, Mukarto mendapat kabar bahwa istrinya hamil. Anak yang lahir
dari doa tersebut kini telah berusia 13 tahun dan sedang menempuh pendidikan di
Pesantren Bina Insani.
Bagi Mukarto, pengalaman itu
menjadi pelajaran mengenai pentingnya keyakinan ketika berdoa. “Keyakinan yang
kuat, yang bersih, doa akan disegerakan. Niscaya Allah akan mengabulkan doa
kita,” katanya.
Karena itu, ia mengingatkan para
jamaah agar tidak hanya mempersiapkan koper dan kebutuhan selama perjalanan.
Hati juga harus dipersiapkan agar benar-benar siap menjalankan ibadah.
Mukarto juga memberikan pesan
khusus kepada jamaah yang memperoleh fasilitas umrah dari yayasan. Ia
mengibaratkan fasilitas tersebut seperti pelatihan yang diberikan sebuah
lembaga. Menurutnya, orang yang membayar sendiri biasanya memiliki rasa
tanggung jawab dan kesungguhan yang lebih besar dibandingkan mereka yang
mendapat fasilitas secara gratis.
Namun, analogi tersebut justru
menjadi pengingat agar jamaah tidak menganggap remeh fasilitas umrah yang
diberikan yayasan. “Jangan sampai karena umrah ini dibiayai lembaga atau
yayasan, kemudian dimanfaatkan tidak sebagaimana mestinya. Justru harus semakin
sungguh-sungguh. Luruskan niat untuk beribadah kepada Allah dan bertamu ke
Baitullah,” tegasnya. Menurutnya, fasilitas perjalanan umrah tersebut merupakan
bentuk penghargaan atau reward dari lembaga. Tidak ada imbalan khusus yang
diminta yayasan kepada para jamaah.
Mukarto meminta para jamaah
menjaga niat sejak berangkat hingga kembali ke tanah air. Ia juga mengingatkan
agar kesehatan dijaga, tuntunan ibadah diikuti dan setiap kesempatan beribadah
selama berada di Tanah Suci tidak disia-siakan.
Pemberian fasilitas umrah
tersebut menjadi bagian dari komitmen yayasan dalam memberikan apresiasi kepada
pihak-pihak yang dinilai telah memberikan kontribusi. Mukarto bersama istrinya,
Hj. Ani Mularto Siswoyo, juga akan bergabung dalam rombongan jamaah. Momen
tersebut membuat perjalanan umrah tahun ini semakin istimewa.
Melalui manasik yang telah
dilakukan, para jamaah diharapkan memiliki bekal pengetahuan fikih, kesiapan
fisik dan mental untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk.
Pada akhirnya, pesan Mukarto
mengarah pada satu hal: umrah bukan sekadar soal siapa yang mampu membayar
biaya perjalanan, tetapi tentang siapa yang mampu menyiapkan hati ketika
mendapat kesempatan menjadi tamu Allah. (Din)