CN – Kegigihan dan ketekunan pedagang boboko (wadah
nasi yang terbuat dari anyaman bambu) berbuah manis. Tahun ini ia mewujudkan
impian untuk beribadah haji di rumah Allah.
Dengan kesabaran, keteguhan hidup
sederhana, serta disiplin dalam menabung, Eye Sunarya, 54, pedagang boboko
keliling asal Blok Minggu dusun Cisampih Desa Tarikolot, Kecamatan Palasah,
Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, akhirnya mampu mewujudkan impiannya
menunaikan ibadah haji pada musim haji 2026.
Pria yang akrab disapa Wa Mumu
itu akan berangkat ke Tanah Suci bersama sang istri, Siti Mariah,48, sebagai
bagian dari calon jemaah haji kloter 06 asal Majalengka. Keduanya dijadwalkan
berangkat pada Minggu, 26 April 2026 melalui Bandara Internasional Kertajati.
Perjalanan hidup Wa Mumu menjadi
perhatian warga karena penuh perjuangan. Sejak lulus Sekolah Dasar pada tahun
1981, ia telah menekuni profesi sebagai pedagang boboko dan berbagai kerajinan
berbahan bambu dengan berkeliling sambil dipikul.
Di tengah perkembangan zaman,
saat banyak pedagang beralih menggunakan kendaraan bermotor, Wa Mumu tetap
jualan "ditang'gung" (dipikul) untuk menjajakan dagangannya dari
kampung ke kampung di wilayah Palasah hingga Leuwimunding.
“Setiap hari saya berkeliling
membawa boboko dan anyaman dari bambu. Saya ambil dari saudara yang menjadi
pengrajin, lalu saya jual ke kampung-kampung,” ujarnya saat ditemui di rumahnya
Kamis, 23 April 2026.
Setelah sekitar lima tahun
berjualan di kampung halaman, Wa Mumu kemudian merantau ke wilayah Purwakarta
dan melanjutkan usahanya hingga sekarang bersama sang istri.
Keinginan untuk menunaikan ibadah
haji sudah tertanam sejak lama. Pada tahun 2013, di tengah keterbatasan
ekonomi, Wa Mumu memberanikan diri mendaftarkan diri bersama istrinya sebagai
calon jemaah haji.
Saat itu, penghasilannya hanya
sekitar Rp30.000 per hari. Namun dengan tekad kuat, ia tetap disiplin
menyisihkan Rp10.000 setiap hari untuk tabungan haji.
Ia memegang teguh prinsip hidup
sederhana sebagaimana nasihat orang tuanya. Separuh dari penghasilannya
ditabung, sementara sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Perjuangan panjang itu akhirnya
membuahkan hasil. Setelah bertahun-tahun menabung, Wa Mumu dan istri kini siap
berangkat ke Tanah Suci.
Kisahnya pun mengundang rasa haru dan bangga dari warga sekitar. Salah seorang tetangga, H.Rega, 57, mengaku tidak heran dengan keberhasilan Wa Mumu. “Pak Mumu itu orangnya sabar dan ulet. Dari dulu memang sudah punya niat kuat untuk berhaji. Kami ikut bangga akhirnya bisa terwujud,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ibu Wiwi
(50) yang menyebut Wa Mumu sebagai sosok pekerja keras dan disiplin. “Setiap
hari keliling , tetap semangat. Ini jadi contoh bagi kami semua bahwa kerja
keras dan konsistensi itu penting,” katanya.
Sementara itu, kerabatnya, Pepeh
,38, menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari kedisiplinan Wa Mumu dalam
mengelola keuangan. “Penghasilannya memang tidak besar, tapi beliau konsisten
menabung. Itu yang membuat kami kagum,” ungkapnya.
Warga pun mendoakan agar pasangan
tersebut diberikan kelancaran selama menjalankan ibadah haji serta kembali ke
tanah air sebagai haji yang mabrur. Kisah Wa Mumu menjadi inspirasi bahwa dengan
kesabaran, kerja keras, dan hidup sederhana, impian besar dapat terwujud,
termasuk menunaikan rukun Islam kelima. (Nuh)