Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, tengah panen kopi (foto: Diskominfo Kabupaten Kuningan) |
CN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan terus mendorong
peningkatan produktivitas dan mutu kopi. Melalui upaya tersebut diyakini juga
akan meningkatkan kesejahteraan petani kopi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menjelaskan bahwa upaya peningkatan produktivitas dan mutu kopi dilakukan dengan beragam cara. “Salah satunya melalui berbagai program pendampingan teknis,” tutur Wahyu, Kamis, 27 Agustus 2026. Program pendampingan yang dilakukan diantaranya melalui melalui praktik budidaya yang baik, peremajaan tanaman tua, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman yang kerap menurunkan hasil panen.
Untuk budidaya tanaman kopi, lanjut Wahyu, mereka melakukan perbaikan kualitas pasca panen. “Mulai dari proses panen yang selektif hingga pengolahan biji kopi yang lebih standar,” tutur Wahyu. Melalui langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah kopi Kuningan di pasar, baik lokal maupun luar daerah.
Dengan langkah yang telah dilakukan diharapkan pengembangan kopi di Kabupaten Kuningan ke depannya tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi perdesaan.
Berdasarkan data dari Diskatan, produksi kopi di Kabupaten Kuningan 1.236 ton selama tahun 2025, lalu. Capaian tersebut berasal dari produksi kopi arabika dan robusta yang dibudidayakan petani di berbagai wilayah sentra perkebunan.
Petani
di Kabupaten Kuningan ada yang menanam kopi robusta dan kopi arabika. “Tapi
produktivitas robusta relatif lebih tinggi dibandingkan arabika,” tutur Wahyu.
Luas lahan kopi robusta di Kabupaten Kuningan mencapai 1.450,29 hektar. Dari luasan tersebut, kata dia, produksi kopi robusta pada 2025 tercatat mencapai 1.173,39 ton dengan produktivitas rata-rata sekitar 1.125 kilogram per hektar.
Kesesuaian lahan di wilayah Kuningan yang mendukung pertumbuhan robusta, serta pengalaman petani dalam pengelolaan kebun yang sudah berlangsung cukup lama. Selain itu, robusta dinilai lebih adaptif terhadap variasi kondisi iklim dibandingkan arabika
Sedangkan kopi arabika dikembangkan pada lahan seluas 236,67 hektar, dengan luas tanaman menghasilkan tercatat 69,50 hektar. “Dari luasan tanaman menghasilkan tersebut, produksi kopi arabika mencapai 63,61 ton dengan tingkat produktivitas sebesar 915,25 kilogram per hektar,” tutur Wahyu.
Kopi arabika di Kabupaten Kuningan umumnya ditanam di dataran tinggi yang memiliki karakter agroklimat sejuk dan curah hujan relatif stabil. Karakter lahan tersebut dinilai cocok untuk menghasilkan biji kopi dengan karakter rasa yang lebih kompleks. “Namun dari sisi volume masih terbatas karena skala kebun yang kecil dan sebagian tanaman masih dalam fase belum menghasilkan," jelas Wahyu. (Ris)