![]() |
| RSD Gunung Jati Kota Cirebon meningkatkan kewaspadaan penyakit campak. |
CN - Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Cirebon meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit campak.
Dalam tiga bulan terakhir, rumah sakit rujukan tersebut mencatat sekitar 50 pasien harus menjalani perawatan intensif, bahkan dua di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Direktur Utama RSD Gunung Jati, dr Katibi menyampaikan, lonjakan pasien sebagian besar berasal dari jalur Instalasi Gawat Darurat (IGD), sementara pasien rawat jalan jumlahnya relatif lebih sedikit.
“Untuk tiga bulan terakhir, pasien dari rawat jalan hanya sekitar enam orang. Tapi dari IGD jauh lebih banyak, Januari ada 26 pasien, Februari 19 pasien, dan Maret meningkat hingga sekitar 50 pasien yang dirawat,” ujarnya, Jumat, 17 April 2026.
Menurutnya, tingginya angka rujukan ke rumah sakit menunjukkan potensi kasus di tingkat layanan kesehatan dasar maupun masyarakat sebenarnya lebih besar.
“Kalau yang sampai ke rumah sakit rujukan saja sudah sebanyak itu, kemungkinan di puskesmas atau di masyarakat jumlahnya bisa lebih banyak,” katanya.
Sebagai rumah sakit rujukan wilayah Ciayumajakuning, RSD Gunung Jati telah menyiapkan berbagai langkah penanganan, mulai dari kesiapan tenaga medis hingga penyediaan ruang isolasi untuk mencegah penularan campak di rumah sakit.
“Kami siapkan tata laksana secara menyeluruh, baik SDM maupun sarana. Di ruang rawat inap, kami sediakan ruang isolasi di tiap gedung supaya penularan bisa diminimalkan,” jelas dr Katibi.
Sementara itu, dokter spesialis anak RSD Gunung Jati, dr Suci Saptyuni Permadi mengungkapkan, tidak semua pasien campak harus dirawat.
Namun, pasien dengan gejala berat atau komplikasi wajib mendapatkan penanganan intensif.
“Indikasi rawat biasanya karena demam tinggi, dehidrasi, atau sudah muncul komplikasi. Yang paling sering kami temukan sekarang adalah bronkopneumonia atau radang paru,” ujarnya.
Selain radang paru, komplikasi lain yang dapat muncul antara lain infeksi telinga, sepsis, hingga radang otak (meningoensefalitis) dan gangguan jantung.
Menurut Suci, sebagian besar kasus berat terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap atau memiliki faktor risiko seperti gizi buruk dan penyakit bawaan.
“Pasien yang meninggal ini ada faktor pemberat. Satu dengan gizi buruk, satu lagi dengan kelainan jantung bawaan. Keduanya juga imunisasinya tidak lengkap,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kedua pasien yang meninggal dunia merupakan anak usia di bawah lima tahun. Salah satu pasien bahkan meninggal dalam waktu kurang dari 24 jam setelah dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
“Pasien datang dengan demam tinggi, sesak napas, dan ruam. Kondisinya cepat memburuk, kemudian dirawat di ICU, namun tidak tertolong,” katanya.
Selain pada balita, tren penularan juga mulai terlihat pada kelompok usia remaja. Hal ini terjadi akibat penularan dalam lingkungan keluarga, terutama dari adik yang lebih kecil dan belum divaksin.
“Sekarang mulai ada remaja yang tertular dari adiknya. Biasanya gejalanya tidak seberat balita, tapi tetap bisa dirawat karena demam tinggi dan penurunan kondisi,” jelasnya.
Untuk mencegah penyebaran, pihak rumah sakit menekankan pentingnya imunisasi campak sesuai jadwal, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, serta penguat saat usia sekolah dasar.
“Kalau anak sudah divaksin lengkap, biasanya gejalanya lebih ringan dan tidak sampai dirawat,” tambah Suci.
Selain imunisasi, langkah pencegahan lain yang dilakukan adalah isolasi pasien, penguatan surveilans, serta edukasi kepada masyarakat.
Rumah sakit juga menerapkan sistem kohorting, yakni memisahkan pasien campak dari pasien lain untuk menghindari penularan.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala campak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam yang biasanya diawali dari belakang telinga lalu menyebar ke seluruh tubuh.
“Kalau menemukan gejala seperti itu, segera periksakan ke fasilitas kesehatan. Selain untuk pengobatan, juga untuk isolasi agar tidak menularkan ke orang lain,” pungkasnya.*
