Ketika Pelabuhan Tua Belajar Bahasa Digital


Transformasi Pelabuhan Cirebon Menjaga Denyut Logistik Jawa Barat

CN - Palang otomatis di gerbang masuk Pelabuhan Cirebon terangkat perlahan setelah kartu elektronik ditempelkan pada alat pembaca. Sebuah truk bermuatan melintas menuju area bongkar muat, sementara kendaraan lain keluar melalui jalur timbang yang seluruh datanya tercatat secara daring.

Dari arah dermaga, deru mesin truk bersahutan dengan suara angin laut yang bertiup di bawah terik matahari siang. Aktivitas berlangsung tanpa jeda. Kapal-kapal curah bersandar, crane bergerak naik turun, dan pekerja dengan helm keselamatan hilir mudik mengawasi proses bongkar muat.

Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi mereka yang bekerja di kawasan pelabuhan. Namun di balik rutinitas tersebut, Pelabuhan Cirebon sedang menjalani sebuah transformasi besar.

Pelabuhan yang dibangun pada 1865 dan diperluas pada 1890 itu kini tidak lagi hanya mengandalkan tenaga manusia dan administrasi berbasis kertas. Di tengah infrastruktur yang telah berusia lebih dari satu abad, sistem digital perlahan mengubah cara pelabuhan bekerja, mengawasi keselamatan, hingga mengelola arus logistik yang menopang industri di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah.

Pelabuhan tua itu sedang belajar bahasa baru: bahasa digital.


Gerbang Ekonomi yang Tak Pernah Benar-Benar Berhenti


Sebagai salah satu simpul logistik di pesisir utara Jawa, Pelabuhan Cirebon memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat kapal bersandar.

Dermaga sepanjang sekitar 907 meter dengan total panjang tambat mencapai sekitar 1.140 meter itu menjadi pintu masuk berbagai komoditas strategis yang dibutuhkan sektor industri.

Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon, Hari Priyatna, mengatakan sekitar 98 persen aktivitas di Pelabuhan Cirebon merupakan kegiatan bongkar muat barang dari luar daerah.

“Komoditas yang masuk ke Pelabuhan Cirebon sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan industri di Jawa Barat hingga Jawa Tengah,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.

Komoditas terbesar yang ditangani masih didominasi batu bara dengan volume sekitar 2,67 juta ton sepanjang 2025. Di bawahnya terdapat pasir kuarsa sekitar 181 ribu ton dan jagung sekitar 162 ribu ton.

Selain komoditas curah kering seperti batu bara, jagung, dan garam, pelabuhan juga menangani komoditas curah cair seperti minyak, aspal, dan minyak sawit mentah (CPO).

Bagi masyarakat umum, angka-angka tersebut mungkin hanya deretan statistik. Namun bagi industri, komoditas itu menjadi bagian penting dari rantai pasok yang menjaga roda ekonomi tetap bergerak.


Ketika Cara Lama dan Teknologi Baru Berjalan Berdampingan

Transformasi yang terjadi di Pelabuhan Cirebon tidak serta-merta menghapus cara kerja lama.

Di salah satu sisi dermaga, sebuah manifold baja masih digunakan untuk membongkar muatan cair seperti minyak dan aspal dari kapal yang bersandar. Roda katup logam yang terpasang pada fasilitas tersebut memperlihatkan jejak usia yang panjang.

Namun hanya beberapa ratus meter dari lokasi itu, aktivitas yang sama kini diawasi melalui sistem digital.

Kontras inilah yang menjadi wajah baru Pelabuhan Cirebon.

Di area bongkar muat jagung, misalnya, modernisasi tidak sepenuhnya menggantikan peran manusia. Grab crane mengangkat jala berisi jagung dari kapal menuju truk pengangkut. Sebelum terangkat, tenaga kerja bongkar muat terlebih dahulu mengatur dan memastikan muatan masuk ke dalam jala dengan aman.

Di lokasi lain, ekskavator dengan grapple bekerja memindahkan batu bara langsung ke atas bak truk.

Teknologi hadir untuk mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Alih-alih menggantikan tenaga kerja, digitalisasi justru membantu menciptakan koordinasi yang lebih baik antara manusia, alat, dan sistem.


Dari Buku Catatan ke Jejak Digital

Perubahan terbesar sesungguhnya terjadi pada cara pelabuhan mengelola data dan layanan.

Jika pada masa lalu berbagai aktivitas administrasi dilakukan secara manual, kini sebagian besar proses telah terintegrasi melalui sistem digital.

Pelabuhan Cirebon menerapkan Pelindo Terminal Operating System Multipurpose (PTOS-M) yang membantu mengelola operasional secara lebih terstruktur. Selain itu terdapat Single Truck Identification Data (STID) yang pertama kali digunakan pada operasinal terminal nonpetikemas untuk mengidentifikasi kendaraan yang keluar masuk kawasan pelabuhan.

Melalui sistem tersebut, pergerakan kendaraan dapat tercatat secara otomatis.

Proses yang sebelumnya membutuhkan pemeriksaan manual kini meninggalkan jejak digital yang dapat ditelusuri kembali kapan saja.

Menurut Hari, digitalisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi layanan, tetapi juga memperkuat transparansi dalam operasional pelabuhan.

“Semua aktivitas menjadi lebih terukur dan terdokumentasi,” katanya.

Di tengah tuntutan pelayanan yang semakin cepat, sistem digital menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga akuntabilitas dan mengurangi potensi penyimpangan dalam proses layanan.


Tiga Puluh Tiga Mata yang Tidak Pernah Berkedip

Transformasi paling menarik terlihat di ruang kendali operasional atau Control Center.

Sekilas ruangan itu tampak sederhana. Beberapa petugas duduk di depan komputer. Suasananya relatif tenang. Namun di hadapan mereka, sejumlah layar besar menampilkan berbagai sudut pelabuhan secara real time.

Sebanyak 33 kamera pengawas tersebar di berbagai titik operasional. Dari ruangan inilah aktivitas pelabuhan dipantau sepanjang waktu.

Deputy Manager Operasi, Teknik dan HSSE PTP Nonpetikemas Cabang Cirebon, Aloysius Nugroho Saputro menjelaskan, pusat kendali tersebut mengawasi dua aspek utama, yakni operasional dan HSSE (Health, Safety, Security and Environment).

Operasional mencakup aktivitas terminal dan bongkar muat. Sementara HSSE berkaitan dengan keselamatan kerja, keamanan, serta perlindungan lingkungan.

Ketika kamera menangkap potensi pelanggaran keselamatan, petugas dapat langsung memberikan peringatan melalui public address system yang terhubung ke area operasional.

Suara peringatan yang terdengar melalui pengeras suara dapat menjangkau kawasan kerja di ring satu pelabuhan.

Bagi pekerja lapangan, suara itu menjadi pengingat bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur administratif.

Ia adalah bagian dari budaya kerja.


Mengubah Perilaku, Bukan Sekadar Mengganti Sistem

Di banyak tempat, digitalisasi sering dipahami sebagai pergantian perangkat atau aplikasi.

Di Pelabuhan Cirebon, perubahan yang terjadi lebih dari itu. Teknologi digunakan untuk membangun budaya kerja yang lebih disiplin.

Pengawasan melalui kamera, sistem identifikasi kendaraan, hingga peringatan keselamatan secara langsung membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih tertib.

Aloysius menuturkan, penguatan aspek HSSE terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir melalui berbagai program kampanye keselamatan, sosialisasi, hingga pengawasan yang lebih intensif.

Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menekan risiko kecelakaan kerja dan meningkatkan kesadaran seluruh pekerja terhadap pentingnya keselamatan.

Di tengah aktivitas bongkar muat yang melibatkan alat berat, kendaraan besar, dan pergerakan barang dalam jumlah masif, perubahan perilaku menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding investasi teknologi.

Karena secanggih apa pun sistem yang digunakan, keselamatan tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya.


Menjaga Masa Depan Tanpa Melupakan Masa Lalu

Pelabuhan Cirebon mungkin lahir pada era yang sangat berbeda dengan hari ini.

Saat dibangun pada abad ke-19, tidak ada layar monitor, kamera pengawas, maupun sistem identifikasi digital. Aktivitas pelabuhan bergantung pada koordinasi langsung dan pencatatan manual.

Kini semuanya berubah. Namun perubahan itu tidak menghapus jejak masa lalu.

Gudang-gudang tua yang masih digunakan, infrastruktur lama yang tetap berfungsi, hingga fasilitas bongkar muat yang telah melayani berbagai generasi menjadi pengingat bahwa sejarah masih hidup di kawasan pelabuhan ini.

Di saat yang sama, autogate, PTOS-M, STID, serta pusat kendali digital menunjukkan arah masa depan yang sedang dibangun.

Pelabuhan Cirebon tidak memilih antara masa lalu atau masa depan. Ia merawat keduanya sekaligus.

Di bawah terik matahari, truk-truk masih keluar masuk membawa batu bara, jagung, garam, minyak, dan aspal menuju berbagai kawasan industri. Di ruang kendali, puluhan kamera terus memantau setiap pergerakan.

Sementara itu, di antara deretan infrastruktur yang telah berdiri lebih dari seabad, teknologi bekerja tanpa banyak suara.

Pelabuhan tua itu memang tidak lagi berbicara dengan bahasa yang sama seperti saat pertama kali dibangun.

Kini, ia telah belajar bahasa digital dan menggunakannya untuk tetap relevan menjaga denyut logistik Jawa Barat.* (Jr)