Derita Fawwas, Bayi 8 Bulan yang Menderita Atresia Bilier dan Hernia




Fawwas, bayi berusia 8 bulan digendong oleh ibunya, Viantika. Bayi yang tinggal di Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, divonis menderta atresia bilier dan hernia



CN – Perjuangan panjang harus dilalui seorang balita Fawwas Rosdiana asal Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.

Anak dari pasangan Viantika dan Asep Rosdiana yang baru berusia 8 bulan divonis dokter menderita  atresia bilier dan hernia. Dua  kondisi medis yang membuat keluarganya harus bolak-balik menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit rujukan. “Awalnya atresia bilier, yang kedua itu hernia. Kalau atresia bilier, gejala awalnya mata sama badan kuning,” tutur Viantika, Sabtu, 10 Januari 2026.

Atresia biller yaitu kelainan bawaan pada bayi di mana saluran empedu di dalam atau di luar hati tersumbat, mencegah empedu (cairan pencernaan) mengalir ke usus, sehingga empedu menumpuk di hati dan menyebabkan kerusakan, sirosis,yang bisa menyebabkan gagal hati.

Sementara hernia yaitu kondisi medis di mana organ atau jaringan tubuh menonjol keluar melalui celah atau titik lemah pada otot atau dinding jaringan di sekitarnya, seringkali membentuk benjolan yang terlihat atau terasa di perut atau selangkangan.

Mereka, lanjut Viantika, tentu tidak tinggal diam. Kedua orang tua Fawwas langsung membawa anaknya berobat. Rumah sakit pertama yang didatangi adalah Rumah Sakit Ciremai. Namun karena kondisi Fawwas tidak memungkinkan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.  “Jadi langsung dibawa ke rumah sakit saat itu. Ya, pertama ke Rumah Sakit Ciremai, karena di lab HB-nya rendah, jadi dirujuk ke sana, ke RSHS,” katanya.

Fawwas pun telah menjalani dua kali operasi di RSHS Bandung. Namun belum cukup, karena kondisi Fawwas tak kunjung membaik. “Sudah dua kali operasi. Sebelum cangkok hati mah, kayaknya bakal kayak gini terus,” tutur Viantika.

Untuk biaya berobat tidaklah murah. Sekali pun ditanggung oleh BPJS, pihak keluarga masih harus mengeluarkan biaya lainnya. Seperti biaya perjalanan ke Bandung, biaya untuk makan dan minum selama di Bandung dan biaya-biaya lainnya. Sementara ayah Fawwas bekerja sebagai sopir pabrik dengan pendapatan yang tidak besar dan ibunya menjadi ibu rumah tangga. “Sebelum cangkok hati mah, kayaknya bakal kayak gini terus,” lanjut Vantika.

Sementara itu Kepala Desa Getrakmoyan, Junandi, mengatakan operasi yang dibutuhkan bukan hanya soal tindakan medis biasa. Meski biaya operasi sudah ditanggung BPJS, ada kebutuhan lain yang tidak kalah besar, yakni biaya pendonor hati. “Pembedahan ini kaitannya dengan biaya pendonor, karena untuk operasi sendiri memang sudah pakai BPJS. Tapi operasi hati itu butuh pendonor hati, dan pendonor itu biayanya besar,” jelasnya.

Ia memperkirakan kebutuhan biaya untuk pendonor hati bisa mencapai ratusan juta rupiah. “Diperkirakan kurang lebih sekitar Rp150 juta, mungkin,” Junandi.

Dengan keterbatasan tersebut, keluarga akhirnya membuka donasi kepada masyarakat sekitar. Upaya itu dilakukan secara swadaya dengan melibatkan perangkat desa dan kader PKK. “Dari pemerintah desa sekarang ini membuka donasi ke warga masyarakat di desa. Saya sempat membuka donasi,” kata Junandi.

Ia menyebutkan, kader PKK turun langsung ke warga untuk menggalang bantuan. “bu-ibu kader PKK keliling ke warga masyarakat,” ungkapnya. Namun, dana yang terkumpul hingga kini masih jauh dari kebutuhan. Saat ditanya jumlah donasi sementara, ia menyampaikan dengan jujur. “Sementara sih baru dua blok, mungkin sekitar Rp5 jutaan kurang lebih,” ungkap Junandi.

Hingga kini, keluarga masih berharap adanya uluran tangan dari berbagai pihak agar operasi pendonor hati dapat segera dilakukan. “Mereka berharap, dengan bantuan masyarakat dan kepedulian bersama, balita tersebut bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih sehat,” tutur Junandi. (Din)