Layanan Mol Pangling di Kota Cirebon (foto: ist) |
CN – Mobil Pangan Keliling (Mol
Pangling) semakin diminati masyarakat. Permintaan masyarakat untuk kehadiran
Mol Pangling terus alami peningkatan.
“Dalam sepekan lalu, Mol Pangling
hadir beberapa kali. Seperti di Kalitanjung dan kawasan Goa Sunyaragi,” tutur Dinas
Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon, Elmi Masruroh,
Kamis, 3 September 2026. Padahal sebelumnya direncanakan Mol Pangling ini direncanakan
bergerak hanya sekali dalam sepekan berkeliling ke kelurahan di Kota Cirebon.
Namun kini, karena permintaan yang cukup tinggi, Mol Pangling bisa bergerak
bisa hingga tiga kali dalam sepekan.
Semakin seringnya Mol Pangling
berkeliling menurut Elmi dikarenakan permintaan masyarakat yang terus
meningkat. “Kami sudah memiliki jadwal rutin untuk kunjungan, namun masyarakat
juga dapat mengajukan permintaan pelaksanaan Mol Pangling. Permintaan tersebut
dapat disampaikan secara resmi kepada DKPPP untuk kemudian diakomodasi sesuai
kesiapan,” jelas Elmi.
Dijelaskan Elmi, gagasan Mol
Pangling yang diluncurkan Juni 2026 merupakan evaluasi dari pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM)
reguler. Pelaksanaan GPM berskala besar
membutuhkan lokasi yang luas, anggaran relatif besar dan persiapan yang lebih
kompleks. Kondisi tersebut membuat jangkauannya tidak selalu bisa mencakup
seluruh wilayah kota.“Kami berpikir harus menghadirkan GPM yang minimalis.
Jadi, bisa menjangkau seluruh pelosok Kota Cirebon,” jelas Elmi.
Dengan adanya program Mol
Pangling ini TPID Kota Cirebon bisa bergerak mendatangi masyarakat dan
menghadirkan pangan dengan harga terjangkau. Model ini sekaligus memungkinkan pelaksanaan
kegiatan pangan murah berdasarkan kebutuhan dan permintaan warga. “
Mol Pangling merupakan hasil
kolaborasi sejumlah institusi. DKPPP berperan sebagai pengelola sekaligus
regulator kegiatan.Sementara kendaraan yang digunakan merupakan mobil milik
Bulog. Adapun proses branding kendaraan dilakukan Bank Indonesia. “Untuk Mol Pangling ini sama sekali tidak
memakai anggaran APBD,” ujar Elmi.
Ada pun komoditas pangan yang
dijual juga berasal dari Bulog. Karena itu, pelaksanaan program mengandalkan
sinergi antara DKPPP dan Bulog yang terkoordinasi di bawah naungan TPID Kota
Cirebon. Komoditas yang tersedia antara lain beras SPHP, gula pasir, minyak
goreng, tepung dan telur. Selain itu DKPPP juga membuka ruang kolaborasi dengan
kelompok tani maupun kelompok wanita tani (KWT).
Hasil pertanian masyarakat
seperti sayuran dapat ikut dipasarkan melalui Mol Pangling. Skema tersebut membuat kendaraan pangan murah
tidak hanya berfungsi sebagai sarana distribusi, tetapi juga berpotensi menjadi
kanal pemasaran produk pangan lokal.
Diakui Elmi, program Mol Pangling
ini masih bisa terus dikembangkan. Namun keterbatasan sumber daya manusia masih
menjadi kendala. “Kalau saya inginnya
kegiatan GPM ini bisa lebih masif lagi. Tetapi karena ini kolaborasi dengan
Bulog, kadang ada keterbatasan sumber daya manusia, terutama pada hari libur,”
jelas Elmi.
Peluncuran Mol Pangling menjadi
bagian dari strategi Pemerintah Kota Cirebon untuk menjaga keterjangkauan harga
pangan sekaligus memastikan distribusi bahan pokok dapat menjangkau masyarakat
secara lebih luas dan merata. Program ini juga merupakan tindak lanjut dari
berbagai langkah pengendalian inflasi yang selama ini dilakukan secara
kolaboratif bersama berbagai pemangku kepentingan di Kota Cirebon. (Hid)