![]() |
| Sebanyak 15 seniman mengikuti Nglukis on Station dalam KAI Mini Fair di Stasiun Cirebon./CN |
CIREBON - Stasiun Cirebon tidak hanya menjadi tempat masyarakat datang dan berangkat menggunakan kereta api. Melalui KAI Mini Fair, ruang publik tersebut juga dihidupkan dengan aktivitas seni dan budaya yang mempertemukan pelanggan, seniman, komunitas, serta pengelola layanan kereta api.
KAI Daop 3 Cirebon menghadirkan sejumlah kegiatan dalam KAI Mini Fair, mulai dari Nglukis on Station, pameran seni rupa hingga Sapa Pelanggan. Rangkaian kegiatan itu dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi pelanggan sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Cirebon kepada masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Salah satu kegiatan yang mencuri perhatian adalah Nglukis on Station. Sebanyak 15 seniman lukis terlibat dengan menjadikan lingkungan Stasiun Cirebon sebagai objek untuk menuangkan ekspresi mereka.
Koordinator seniman lukis, Niko Permadi atau yang dikenal dengan nama Niko Brur mengatakan, Stasiun Cirebon memiliki nilai historis yang membuatnya menarik sebagai objek karya seni.
Menurutnya, bangunan stasiun yang masih mempertahankan bentuk aslinya menjadi sumber inspirasi sekaligus kebanggaan bagi seniman Cirebon.
“Ini adalah salah satu gedung peninggalan sejarah yang bernilai di Kota Cirebon. Jadi ini sebagai sumber inspirasi, sebagai kebanggaan juga seniman-seniman Cirebon. Karena masih bisa menikmati, masih bisa menggambar, masih ada di Kota Cirebon dan bentuknya masih asli,” ujar Niko, Selasa, 29 September 2026.
Para seniman yang terlibat menggunakan beragam teknik dan media dalam kegiatan tersebut. Ada yang membuat lukisan di atas kanvas, sketsa, menggunakan krayon, hingga akrilik.
Bagi Niko, aktivitas melukis di stasiun tidak sekadar menghasilkan karya. Kehadiran para seniman di ruang publik tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Stasiun Cirebon sebagai salah satu wajah kota kepada masyarakat dari luar daerah.
Ia berharap Stasiun Cirebon dapat berkembang menjadi pintu gerbang yang mengenalkan budaya dan karakter kota kepada para pendatang.
“Harapannya Cirebon bisa menjadi pintu gerbang. Terutama stasiun ini menjadi pintu gerbang orang-orang yang mau hadir di Kota Cirebon. Menjadi pusat informasi dan budaya sehingga Stasiun Cirebon ini bisa menjadi kebanggaan, baik para pengunjung yang datang dari luar kota ataupun masyarakat Cirebon sendiri,” katanya.
Kegiatan melukis tersebut dibuka secara simbolis melalui goresan pertama pada kanvas dan pahatan pertama pada relief kriya handmade. Selain menjadi ruang ekspresi, kehadiran para seniman juga membuka kesempatan bagi pelanggan untuk melihat proses kreatif secara langsung di tengah aktivitas perjalanan mereka.
Tidak hanya Nglukis on Station, KAI Mini Fair juga menghadirkan pameran seni rupa di selasar Stasiun Cirebon. Pameran tersebut menampilkan lukisan kaca karya Darmono serta kriya handmade berbahan logam karya Budhi Brasco.
KAI Daop 3 Cirebon juga menggandeng Dinas Kebudayaan Kota Cirebon untuk menghadirkan pameran Topeng Cirebon. Kesenian tradisional tersebut menjadi salah satu bagian dari identitas budaya masyarakat Cirebon.
Kolaborasi juga dilakukan bersama Cirebon Culture Expo Mahasiswa PPG Calon Guru 2026 UMC. Mereka menghadirkan maket Stasiun Cirebon serta maket peta wilayah Cirebon dan sekitarnya yang dibuat menggunakan media bubur kertas.
Nuansa kesenian tradisional kemudian diperkuat melalui penampilan tari topeng dari Sanggar Seni Sekar Pandan. Pertunjukan tersebut menjadi hiburan bagi pelanggan sekaligus ruang pengenalan seni pertunjukan Cirebon kepada masyarakat yang tengah berada di stasiun.
Di sisi lain, KAI memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan melalui agenda Sapa Pelanggan. Jajaran KAI Daop 3 Cirebon menyapa pelanggan di area stasiun sekaligus memberikan souvenir sebagai bentuk apresiasi.
Dalam interaksi tersebut, pelanggan juga diberi kesempatan menyampaikan pengalaman dan tanggapan mengenai fasilitas maupun pelayanan di Stasiun Cirebon. Masukan itu menjadi bahan bagi KAI untuk mengetahui pengalaman pelanggan secara langsung.
Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon Muhibbuddin mengatakan, KAI Mini Fair menjadi bagian dari upaya perusahaan mendekatkan diri dengan pelanggan sekaligus membuka ruang bagi seni dan budaya lokal di lingkungan stasiun.
“Melalui KAI Mini Fair ini, kami ingin menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar perjalanan kereta api. Pelanggan dapat berinteraksi langsung dengan jajaran KAI, menyampaikan pengalaman dan masukannya, sekaligus menikmati karya seni dan pertunjukan budaya Cirebon di lingkungan stasiun,” ujar Muhibbuddin.
Menurutnya, keterlibatan seniman, komunitas, dan pemerintah daerah menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menjaga sekaligus memperkenalkan seni dan budaya lokal.
Stasiun, kata dia, memiliki potensi untuk menjadi ruang publik yang mempertemukan mobilitas masyarakat dengan aktivitas kreatif dan kebudayaan.
“Kami berharap kegiatan seperti Nglukis on Station, pameran seni rupa, serta pertunjukan budaya dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan Cirebon kepada masyarakat dari berbagai daerah yang datang dan berangkat melalui Stasiun Cirebon,” katanya.*
