Kisah Supri untuk Menggerakkan Ekonomi Desa

 



Pagi itu, di  Desa Sindangkempeng, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, seorang pria berusia akhir empat puluh tahun tampak telaten memeriksa hasil panen telur bebek. Tangannya lincah memindahkan telur-telur ke dalam keranjang, sementara wajahnya terlihat puas. Dialah Supri, sosok sederhana yang kini menjadi buah bibir warga desa karena kegigihannya membangun usaha dari nol. Dari telur asin hingga Kopi Nukami, dari kandang bebek hingga greenhouse hidroponik

Bagi Supri, beternak bukan sekadar rutinitas mencari nafkah. Ia memulai semuanya dengan tekad untuk mandiri dan memanfaatkan potensi yang ada di sekitarnya. Dari kandang bebek yang dikelola secara sederhana, Supri memproduksi telur asin hasil olahannya sendiri. Usaha kecil itu perlahan tumbuh dan menjadi sumber penghidupan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi warga sekitar.

“Kalau semua bahan bisa kita hasilkan sendiri, kenapa harus bergantung ke luar?” katanya sambil tersenyum, menunjukkan rak telur asin yang siap dipasarkan akhir pekan lalu. Bahkan tidak hanya peternakan bebek yang telurnya dibuat produk telur asin, Supri pun memiliki greenhouse hidroponik, hingga cafĂ© yang menyiapkan beragam menu dengan harga terjangkau.

Selain peternakan bebek,  di samping rumah Supri sudah ada greenhouse sederhana dengan rangka besi dan plastik bening. Di dalamnya, deretan sayuran hijau tumbuh rapi di pipa-pipa putih menggunakan sistem hidroponik. Pemandangan itu menjadi hal baru bagi warga desa, terutama anak-anak yang sering mampir sekadar melihat atau membantu menyiram tanaman. “Rasanya bangga kalau bisa panen sendiri. Sayurannya segar, dan orang kampung bisa beli tanpa harus jauh ke kota,” ujar Supri.

Keberadaan greenhouse tersebut memberi warna tersendiri bagi desa. Sayuran hidroponik yang biasanya hanya dijumpai di perkotaan, kini bisa dinikmati warga dengan harga terjangkau dan kualitas segar. Tak sedikit warga yang merasa terbantu karena kebutuhan pangan sehat bisa didapat tanpa harus menempuh jarak jauh.

Tak puas sampai di situ, Supri kembali melangkah lebih jauh. Ia mendirikan sebuah kafe kecil bernama Kopi Nukami. Bangunannya sederhana, namun hangat. Kursi-kursi kayu tertata rapi, aroma kopi menyebar, dan suasana akrab terasa kuat. Kafe itu kini menjadi ruang berkumpul warga desa dari berbagai kalangan.

Di Kopi Nukami, para pemuda desa bercengkerama, ibu-ibu melepas penat, dan anak-anak menikmati minuman manis dengan harga ramah di kantong. Kehadiran kafe tersebut seolah menghapus jarak antara desa dan kota dalam hal gaya hidup, tanpa meninggalkan kesederhanaan. Kalau di kota, nongkrong di kafe bisa bikin kantong jebol. Di sini, semua bisa menikmati tanpa takut mahal.

Usaha yang dirintis Supri juga membawa dampak nyata bagi perekonomian desa. Saat ini, enam warga setempat bekerja di berbagai unit usahanya, mulai dari peternakan, greenhouse, hingga kafe. Bagi mereka, pekerjaan tersebut menjadi harapan baru di tengah sulitnya mencari lapangan kerja. “Alhamdulillah, saya bisa bantu teman-teman yang sebelumnya kesulitan mencari pekerjaan,” ucap Supri.

Warga pun merasakan manfaat ganda dari keberadaan usaha tersebut. Selain membuka lapangan kerja, telur asin dan sayuran hidroponik menjadi alternatif pangan sehat yang mudah dijangkau. Roda ekonomi desa bergerak perlahan, namun pasti.

Bagi Supri, usaha yang ia bangun bukan semata soal keuntungan materi. Ada nilai dan pesan yang ingin ia sampaikan, terutama kepada generasi muda desa. “Saya ingin menunjukkan bahwa anak muda desa juga bisa mandiri, memanfaatkan potensi yang ada di sekitar, dan tetap memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya penuh semangat.

Harapan Supri sederhana. Ia ingin usaha kecil yang dirintisnya terus berkembang, mampu membuka lebih banyak lapangan kerja, dan membuat Desa Sindangkempeng semakin dikenal. "Dari pertama mulai usaha sampai sekarang, Alhamdulillah bisa membantu orang yang belum memiliki pekerjaan. Sekarang karyawan sudah ada lima orang, empat di kedai dan satu orang ngurus kandang bebek dan hidroponik," ujarnya. 

Kisah Supri menjadi potret nyata bagaimana mimpi sederhana bisa menyalakan harapan besar. Dari telur asin hingga Kopi Nukami, dari kandang bebek hingga greenhouse hidroponik, ia membuktikan bahwa desa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang lahirnya inovasi, kemandirian, dan masa depan yang menjanjikan. (Din)