CN - Pemerintah Kota Cirebon terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Milangkala Tatar Sunda Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam, 10 Mei 2026. Persiapan dilakukan melalui rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dilanjutkan dengan survei lapangan di sejumlah titik rute kirab budaya pada Kamis, 7 Mei 2026.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo didampingi Iing Daiman bersama perangkat daerah terkait turun langsung meninjau kesiapan lokasi kirab budaya bertema “Nyuhun Buhun, Nata Nagara”. Rapat tersebut membahas berbagai aspek teknis, mulai dari penentuan titik start, pengamanan, penataan kawasan, hingga kesiapan sarana dan prasarana pendukung.
Wali Kota mengatakan, koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi langkah penting agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan tertib dan lancar. Peninjauan lapangan dilakukan untuk memastikan seluruh kebutuhan teknis di lokasi bisa segera dibenahi sebelum hari pelaksanaan.
“Kita sudah rapat kedua kalinya dengan Provinsi untuk mempersiapkan acara tanggal 10 malam nanti. Alhamdulillah pembahasan berjalan lancar dan hari ini langsung kita lanjutkan dengan meninjau lapangan bersama tim panitia. Mudah-mudahan setelah melihat langsung kondisi di lapangan, apa yang masih kurang dan apa yang perlu diperbaiki masih ada waktu untuk kita benahi,” ujarnya.
Menurut Edo, kawasan depan BAT atau Taman Pedati Gede telah disepakati sebagai titik awal kirab budaya karena dinilai representatif dan mendukung kelancaran kegiatan. Pemerintah Kota Cirebon juga mulai melakukan penataan kawasan di sepanjang rute kirab, termasuk membersihkan vandalisme di sejumlah tembok dan pintu toko.
“Beberapa coretan vandalisme nanti akan kita tertibkan. Pemerintah Kota akan mengeluarkan surat edaran melalui Pak Sekda agar pemilik toko dapat mengecat kembali bagian yang terkena coretan. Sebagian juga akan dibantu oleh Provinsi. Selain itu, ada beberapa titik jalan berlubang yang juga akan dibantu penanganannya,” katanya.
Kirab budaya akan melintasi sejumlah ruas jalan satu arah di kawasan Kota Tua Cirebon. Pemerintah memastikan penutupan jalan dilakukan secara situasional agar tidak terlalu mengganggu aktivitas masyarakat.
“Karena sebagian besar ruas jalan yang dilalui sudah satu arah, insyaallah tidak terlalu mengganggu arus lalu lintas. Penutupan dilakukan sementara dan tetap mempertimbangkan kelancaran aktivitas masyarakat,” ungkapnya.
Dalam aspek pengamanan, Pemerintah Kota Cirebon akan berkolaborasi dengan TNI, Polri, unsur Keraton, komunitas Macan Ali, Satuan Polisi Pamong Praja, dan berbagai pihak lainnya. Penataan pedagang kaki lima serta atribut liar di sepanjang jalur kirab juga akan dilakukan demi menjaga estetika kawasan budaya.
“Ada beberapa ruas jalan yang PKL-nya akan ditertibkan sementara untuk satu malam saja. Spanduk dan banner yang sudah tidak layak juga akan kita rapikan agar kawasan terlihat lebih bersih dan tertata,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda, Dedi Supandi menjelaskan, kirab budaya tersebut bukan hanya perayaan budaya semata, melainkan simbol keterikatan antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.
“Kegiatan ini bukan hanya kirab budaya, tetapi ada keterikatan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota. Apa yang belum maksimal dilakukan daerah, nantinya bisa didukung oleh Provinsi. Kami berharap pasca kegiatan ini akan ada beberapa revitalisasi di Kota Cirebon, termasuk kawasan Kota Tua,” ujarnya.
Menurut Dedi, kegiatan ini juga menjadi momentum mendorong penataan kawasan heritage Kota Cirebon agar lebih tertata dan memiliki daya tarik budaya yang kuat. Sejumlah rencana revitalisasi seperti penerangan jalan umum, trotoar, hingga kawasan Alun-alun Kesultanan disebut tengah dipersiapkan untuk beberapa tahun ke depan.
“Kita ingin kawasan Kota Tua Cirebon punya kesan yang hidup dan nyaman. Selain itu, revitalisasi kawasan Alun-alun Kesultanan juga direncanakan dilakukan pada tahun 2027 agar wajah Kota Cirebon semakin indah,” katanya.
Ia menambahkan, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda merupakan bagian dari napak tilas sejarah Mahkota Binokasih, simbol pemersatu dalam sejarah Tatar Sunda. Melalui kegiatan itu, masyarakat diajak mengingat kembali nilai persatuan, budaya, dan semangat membangun daerah bersama-sama.
“Kita ingin mengingat kembali sejarah Tatar Sunda yang kaya budaya dan memiliki kejayaan besar. Semangatnya adalah bagaimana kita bersama-sama menata negara, menata provinsi, menata kabupaten dan kota untuk kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Kirab budaya nantinya akan melibatkan delegasi seni dan budaya dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Rute kirab dimulai dari kawasan BAT atau Taman Pedati Gede menuju Alun-alun Sangkala Buana dengan jarak sekitar 2,1 kilometer. Iring-iringan akan dimeriahkan kuda tunggang, Kereta Kencana Mahkota Binokasih, hingga berbagai pertunjukan seni budaya daerah.
Di titik akhir kirab, tamu VIP termasuk Gubernur Jawa Barat dijadwalkan menyaksikan atraksi budaya di panggung utama kawasan Alun-alun Kasepuhan. Seluruh peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat dan atribut budaya sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi Sunda.
“Karena ini acara adat dan budaya, maka seluruh peserta harus menampilkan identitas budayanya dengan baik. Mereka harus menggunakan pakaian adat dan menampilkan kesenian yang benar-benar mencerminkan penghormatan terhadap budaya,” pungkasnya.*(Jr)
