Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman menutup kegiatan Desa Smart Village dan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2025, |
CN
– Pemerintah desa di Kabupaten Cirebon diminta bisa memanfaatkan teknologi
untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Seiring perkembangan, digitalisasi desa merupakan kebutuhan mutlak. Karena saat ini perkembangan, pemanfaatan dan penerapan teknologi informasi semakin masif,” tutur Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman, usai menutup kegiatan Desa Smart Village dan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2025, di ruang Nyi Mas Gandasari, Setda Kabupaten Cirebon, Selasa, 20 Januari 2026.
Dijelaskan Agus sepanjang 2025 lalu, program Smart Village dan Desa Cantik telah diikuti oleh 96 desa di Kabupaten Cirebon. Program ini menjadi pondasi penting dalam mewujudkan pembangunan desa berbasis digital. “Digitalisasi desa menjadi kebutuhan mutlak, karena masyarakat kita sebagian besar tinggal di desa. Melalui Smart Village, pembangunan dan pelayanan publik bisa dilakukan lebih cepat, transparan, dan akurat,” ujar Jigus, sapaan akrab Wabup.
Selanjutnya kepada 96 desa tersebut Agus meminta bisa menjadi contoh bahkan pemicu agar desa-desa lainnya juga melakukan transformasi dengan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Pemkab Cirebon juga menargetkan 412 desa di wilayah mereka sudah menerapkan digitalisasi hingga 2030, seiring dengan akhir masa kepemimpinan mereka.
Tingkatkan Pelayanan
Publik
Dijelaskan Agus, dengan
menerapkan digitalisasi makan akan meningkatkan pelayanan pemerintah desa
kepada masyarakatnnya. “Seluruh
proses pelayanan di desa diharapkan berbasis aplikasi agar lebih mudah diakses
masyarakat sekaligus meningkatkan transparansi kegiatan dan anggaran desa,”
tutur Agus.
Agus
pun menambahkan bahwa data digital desa juga akan dimanfaatkan untuk pemetaan
pengangguran, kemiskinan, rumah tidak layak huni (rutilahu), hingga data
kesehatan masyarakat, termasuk klasifikasi desil kesejahteraan. “Melalui
digitalisasi, Pemerintah Kabupaten Cirebon juga dapat memantau tingkat
pendidikan masyarakat, mulai dari lulusan SD, SMP, hingga SMA setiap tahunnya.
Data tersebut menjadi dasar untuk mengejar target rata-rata lama sekolah sesuai
arahan pemerintah pusat,” kata Agus.
Dalam kesempatan tersebut, Agus juga mengapresiasi desa-desa yang telah sukses menerapkan Smart Village. Salah satunya adalah Desa Karangwangun, Kecamatan Babakan, yang berhasil meraih penghargaan tingkat Provinsi Jawa Barat. “Desa Karangwangun menjadi pelopor. Di sana, digitalisasi tidak hanya mencakup data dasar, tetapi juga pelayanan, transparansi kegiatan desa, hingga publikasi informasi kepada masyarakat,” terangnya.
Selain
Karangwangun, Desa Kalikoa juga dinilai berhasil menerapkan sistem digital desa
dan menerima penghargaan dalam program Desa Cantik. “Ini bukti bahwa desa-desa
di Cirebon mampu beradaptasi dengan teknologi. Tinggal bagaimana kita
memperluas dan mempercepat penerapannya,” tutur Agus. (Din)
===============================================================
Wakil
Bupati Cirebon, H. Agus Kurniawan Budiman, secara resmi menutup kegiatan
Cirebon Smart Village dan Desa Cantik (Cinta Statistik). Penutupan kegiatan
tersebut berlangsung di Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon, Selasa
(20/1/2026).
Wakil
Bupati yang akrab disapa Jigus itu mengatakan, kegiatan tersebut merupakan
bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Cirebon dalam mendorong pembangunan desa
berbasis digital dan data. “Alhamdulillah hari ini saya mewakili Pak Bupati,
bersama Dinas Kominfo, mengadakan penutupan kegiatan Cirebon Smart Village dan
Desa Cantik tahun 2025,” kata Jigus.
Ia
menyebutkan, kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 96 desa yang ada di
Kabupaten Cirebon. Para kuwu dari desa-desa peserta turut hadir dalam kegiatan
penutupan tersebut. “Alhamdulillah tadi dihadiri oleh para kuwu di Kabupaten
Cirebon, kurang lebih ada 96 desa yang mengikuti acara ini,” ujarnya.
Jigus
berharap, program Smart Village dapat berjalan dengan baik karena menjadi
konsep pembangunan desa yang berbasis digital. Menurutnya, data merupakan
elemen penting yang akan menjadi dasar dalam perencanaan dan pelayanan di
tingkat desa. “Harapan kami dari pemerintah daerah tentunya semoga desa Smart
Village ini bisa berjalan dengan baik, karena ini merupakan konsep pembangunan
desa berbasis digital. Data ini sangat penting, terutama data dasar yang
nantinya diterapkan di desa-desa,” jelasnya.
Ia
menambahkan, digitalisasi desa tidak hanya menyentuh pembangunan, tetapi juga
pelayanan publik. Data dasar yang dihimpun meliputi jumlah penduduk, laki-laki
dan perempuan, angka kelahiran, kematian, penduduk pindah datang dan pindah
pergi. “Terutama data dasar, jumlah penduduk di desa, dibagi laki-laki dan
perempuan, jumlah yang lahir, yang meninggal, yang pindah datang dan pindah pergi,”
ungkapnya.
Selain
itu, aplikasi yang digunakan dalam program tersebut ke depan juga akan memuat
data lain seperti jumlah pengangguran, luas wilayah desa, zonasi lahan sawah,
pekarangan, lahan perumahan, hingga data rumah tidak layak huni. “Insya Allah
ke depannya bisa mencakup keseluruhan data yang terkait di desa masing-masing,
supaya bisa bersinergi dengan pemerintah daerah,” katanya.
Menurut
Jigus, integrasi data antara desa dan pemerintah daerah diharapkan dapat
mewujudkan keseragaman data atau satu data terpadu. “Harapannya nanti antara
data di desa dan pemerintah daerah bisa menjadi pemadanan data atau satu data,”
tambahnya. Dalam kegiatan tersebut, pemerintah daerah juga memberikan nominasi
kepada desa-desa yang dinilai aktif dan optimal dalam menjalankan program Smart
Village dan Desa Cantik. w“Tadi ada 13 desa yang diberikan nominasi, ada
beberapa kategori. Tentunya ini sebagai penyemangat bagi desa-desa yang sudah
menjalankan program ini,” pungkasnya.